SI DOLI PARJALANG

oleh lamasi

BAGIAN I

Prolog : Di sebuah desa kecil di pinggiran danau Toba, terdapat lah seorang ibu tua yang sudah lama menjanda. Kehidupan Ibu tua yang malang itu sangat menyedihkan. Kemiskinan yang menderanya membuatnya tidak di perhitungkan dalam acara adat di kampung itu. Dia hanya memiliki seorang anak laki-laki yang sangat menyayanginya dan rajin bekerja. Namun pada suatu hari anak kesayangannya itu minta izin kepada ibunya agar di restui untuk pergi merantau dengan maksud akan mengubah nasibnya dan ibunya. Hari itu ibu tua itu sebenarnya sangat berat untuk melepaskan kepergian anak tunggalnya itu. (lagu O tao Toba)

Tagor : (Masuk)

Ibu : Oh Tagor, dari mana kau amang?

Tagor : Dari rumahnya si Jamot mak.

Ibu : Bah marhua kau ke sana?

Tagor : Tulangnya yang dari Jakarta itu dating, trus Tagor di ajak ke Jakarta.

Ibu : Tu Jakarta? Unang pola dohot kau amang.

Tagor : Mak, biarlah aku ini pergi merantau ke kota. Siapa tau nanti anak mu ini akan berhasil di sana. Anak mu ini ingin membahagiakan mamak, Tagor tidak mau lagi melihat mamak di perlakukan seperti ini oleh orang-orang kampung ini. (Dengan wajah mantap untuk merantau)

Ibu : Pikirlah dulu amang, siapa nanti teman mamak di rumah ini. Mamak tidak kuat lagi bekerja sendiri untuk mengolah sawah kita yang sandahop itu. (wajah sedih mengingat anak nya akan pergi).

Tagor : Sudah mak, Tagor sudah bulat untuk merantau.

Ibu : Tapi amang, sudah tua mamak mu ini. Siapa nanti yang merawat mamak kalau sakit. Mamak takut kalau nanti mamak mati tidak ada yang tau kalau kau pergi.

Tagor : Pos lah roha mu mak. Mamak tidak akan apa-apa sampai nanti Tagor sudah berhasil dan membawa uang untuk mamak.

Ibu : Antong songon I nama amang. Baiklah kalau begitu. Mamak izinkan kau pergi. Sekarang beres-bereslah untuk pergi. (dengan pasrah)

Prolog : Dengan perasaan senang bercampur sedih Tagor masuk ke rumah untuk membereskan pakaiannya. Bayangan tentang tanah perantauan telah terpampang di otaknya. Namun rasa sepi tiba-tiba merasuk di hatinya, sebenarnya hatinya berat meninggalkan ibunya yang sudah tua itu. Tapi kalau bukan dengan cara ini, dia tidak akan bisa mengubah nasib keluarganya. (Lagu Unang).

Ibu : (Duduk merenung, sambil meneteskan air matanya. Sebentar lagi anak kesayangannya akan pergi meninggalkan dia dan tanah kelahirannya).

Tagor : (Masuk) Mak, saya sudah siap. Tagor permisilah dulu ya mak. Doakanlah Tagor agar kelak bisa mengubah nasib keluarga kita dan bisa membahagiakan mamak.

Ibu : Baik-baiklah kau di sana yang amang. Ingat pesan mamak “pantun hangoluan tois hamagoan”. (Lagu Poda )

Tagor : Baiklah mak. Semua poda dari mamak akan aku ingat.

Ibu : Siapa teman mu nanti pergi?

Tagor : Itu mak, tulangnya si Jamot yang dari Jakarta itu. Tadi aku sudah bilang sama tulang itu.

Ibu : Denggan ma ho da amang. Kalau uang untuk ongkos mu mamak tidak punya. Ambil lah ini amang siapa tau nanti kau memerlukannya. Tinggal inilah harta mamak peninggalan bapak mu. (Memberikan kalung)

Tagor : Tidak usah mak, masih ada tabunganku. Tiop mamak lah itu.

Ibu : Baiklah kalau begitu, peganglah ulos mamak ini. Siapa tau nanti kau malungun sama mamak, peluk lah ulos mamak ini. (Memberikan ulos sambil membelai kepala Tagor)

Tagor : (Mencium tangan ibunya) Tagor pergi ya mak. (Lalu pergi)

Ibu : (Memandang sambil menangis)

Prolog : Dengan langkah berat Tagorpun pergi meninggalkan ibunya dan kampong halamannya. (Lagu Tingal ma ho inang)

Ibu : (Berdoa) Tuhan berkatilah setiap cita-cita anakku. Semoga apa yang dia impikan menjadi kenyataan. Amin. (Turun Panggung)

BAGIAN II

Prolog : Setelah perpisahan itu, Tagor dalam hatinya berjanji untuk bekerja keras dan mengumpulkan uang untuk mengangkat martabat ibunya di mata orang-orang kampungnya. Rasa sayangnya yang begitu besar membuatnya tetap ingat akan pesan dari ibunya. Hingga sesampainya dia di perantauan. Tetapi ternyata kenyataan tak seindah impiannya. Baru beberapa hari dia di perantauan, uangnya mulai habis. Sementara kehidupannya belum menentu. Dia terlunta-lunta di keramaian ibu kota. (lagu Jumpa La banci)

Tagor : Bah, aku lapar sekali. Tapi uangku sudah habis. (Mimik orang lapar) (Sementara dia menahan lapar, dia melihat ada makanan terbuang di pinggir jalan. Karena rasa lapar yang serasa menusuk perutnya, tanpa pikir panjang dia mengambil dan langsung memakannya.)

Orang1 : Cuih,, dasar gembel menjijikkan. Sampah di makan. Ga punya uang ya?

Orang2 : Yah gembel di Tanya, ya jelaslah ga punya duit. Kalo punya duit bukan gembel namanya, tapi konglomerat,,,ha,,,ha,,,,

Orang3 : Alah gembel aja diurusin. Minat lo berdua?

Orang2 : Iya neh, gw minat. Sapa tau bisa gantiin dogi gua yang ilank. Kan ngitung-itung jagain rumah,,,

Orang1 : Sadis banget she lo, tapi mirip juga she.

Orang3 : Udah ah, tuh bus nya dah dating. (Mereka bertiga pergi)

Prolog : (Mendengar kata-kata tadi, hatinya serasa tersayat-sayat. Dia bahkan diperlakukan layaknya seekor anjing. Rasanya dia ingin sekali berteriak, meneriaki nasibnya.) (Lagu Taringot Ahu)

Tagor : Ternyata inilah kehidupan yang sesungguhnya. Tidak di kampong, tidak di kota semua orang tidak mengingikan kehadiran orang seperti aku. (Berdiri, berjalan pelan-pelan sambil memandangi ulos ibunya)

Bapak1 : (Tabrakan) Bah, dimana pula kau letakkan mata mu itu anak muda. Kalau jalan itu pakelah matamu yang rondaron itu.

Tagor : Maaf pak, tadi saya melamun.

Bapak1 : Dari gaya bicaramu itu kayaknya kau bukan orang sini ya. Bah apa yang kau pegang itu?

Tagor : Oh ini ulos pak, pemberian dari mamak di kampong.

Bapak1 : Ulos? Jadi halak hita nya kau? Marga aha ma ho puang?

Tagor : Marga Purba tulang.

Bapak1 : Bah raja I do hape hamu. Amang boru mu nya aku. Amang boru marga Harianja, namborumu nya boru Manalu.

Tagor : Iya amang boru.

Bapak1 : Jadi di manalah kau tinggal tulang?

Tagor : Belum tau amang boru. Aku belum tahu harus tinggal di mana, baru dua hari aku di sini.

Bapak1 : Antong kalau begitu, di jabu ni amang boru lah dulu kau tinggal. Nanti akan amang boru carikan kau pekerjaan yang layak.

Tagor : Baiklah amang boru, mauliate. (Berdua meninggalkan panggung. Lagu Mauliate).

BAGIAN III

Prolog : Sudah lama sejak kepergian Tagor, ibunya hidup sendiri dan sakit-sakitan. Rasa rindu yang sangat dalam membuat ibunya tidak pernah berhenti memikirkannya. Setiap hari ibunya berdiri di pintu memandang kea rah jalan untuk menantikan kedatangan anaknya. Namun penantian hanya tinggallah penantian, Tagor tak kunjung dating. Akhirnya ibunya yang sudah renta itu jatuh sakit.

Ibu : (Berdiri) Bah, lama kalilah si Tagor ini yang merantau itu. Apa sudah lupa dia sama mamaknya ini. Anggiatlah dia dapat meraih cita-citanya.

Orkam1 : (Masuk) Bah lagi marhua kau di situ eda nai Tagor?

Ibu : Ini lagi menunggu si Tagor, atik boha di pulang.

Orkam1 : Ambal ni hata nga boha kabarnya si Tagor itu? Apa sudah sukses dia di kota sana?

Ibu : Seperti itulah, aku juga belum dapat kabarnya. (Lagu Patik Palimahon)

Orkam1 : Oh,,,, antong pergi dulu lah aku eda nai tagor ya. (Pergi)

Ibu : Iya eda.

Orkamp2 : (Masuk) Bah, lagi ngapain namboru di situ?

Ibu : Lagi menunggu seseorang.

Orkamp2 : Siapa yang kau tunggu namboru?

Ibu : Atik boha pulang si Tagor. Jadi saya tunggulah dia di sini.

Orkamp2 : Untuk apa lah kau tunggu si Tagor itu namboru. Ga diingatnya nya lagi namboru, udah sonang mar heppi-heppi dia di kota sana sama angka namarbaju i. Molo so I, jangan-jangan udah meningalnya dia. Yaudalah namboru, pergilah dulu aku. Unang polo tunggu anak mi. (Pergi)

Ibu : (Sedih) Hah,,,, kenapa semua orang tidak peduli dengan ku?? Ari pe nga golap, kapan kah kau pulang Tagor hasian. (Pergi). (lagu Anak bungsu)

BAGIAN IV

Prolog : Sepuluh tahun kemudian, karena kemauan dan kerja keras Tagor yang kuat akhirnya dia berhasil di negeri orang. Selama sepuluh tahun ini dia menabung mengumpulkan uang untuk dibawanya pulang ke kampong. Dia ingin sekali membawa pergi ibunya yang masih tinggal di kampong. Dia tidak ingin ibunya dipandang rendah oleh orang kampong. (lagu Anak Medan)

Tagor : Hah, ternyata enak jadi orang kaya. Pantas banyak orang menghalalkan banyak cara untuk kaya.

Bapak1 : Bah, kayaknya senang kali kau hari ini Tagor?

Tagor : Itulah amang boru, berkat amang boru aku bisa jadi seperti ini. Mauliatelah ate amang boru.

Bapak1 : Ah, ga usah kau ingat itu. Semua itu juga karena kaunya yang rajin. Di boto ho do dangol. Dan kau juga tidak sombong. Jadi kau pantas dapatkan semua ini.

Tagor : Ini semua berkat tangiang mamak di kampunya amang boru. Mamaklah yang mengajari aku untuk pantun marroha. (Lagu Poda ni dainang)

Bapak1 : Jadi beginilah itu Tagor, kau kan sudah lama tidak bertemu dengan mamak di kampong sudah 10 tahun. Pulang lah dulu kau ke kampong, kau tengoklah dulu keadaan mamak di kampong. Lagian kau sudah jadi orang di perantauan ini.

Tagor : Itulah amang boru, tadi aku mau permisi sama amang boru. Sudah rindu aku sama mamak. Semoga dia masih sehat untuk melihat anaknya ini pulang ke bona pasogitnya. (lagu Arga do Bona ni Pinasa)

Bapak1 : Baguslah kalau begitu. Kapan rencanamu pulang ke kampong?

Tagor : Besok amang boru.

Bapak1 : Dengganlah itu. Kalau gitu sampaikan lah tabeku sama namboru mu untuk mamak di kampong ate.

Tagor : Olo amang boru. Mauliate amang boru. Kalau begitu, aku pergi dulu ya amang boru, mau beres-beres dulu. (Pergi)

Bapak1 : Naburju ma tahe si Tagor on. Mudah-mudahan anak ku kelak seperti dia, biar las roha ni halak melihatnya. (pergi)

BAGIAN V

Prolog : Akhirnya penantian panjang sang ibu tua akan segera usai. Anak nya yang telah sepuluh tahun pergi meninggalkannya dalam kesendirian akan kembali ke tanah kelahirannya. Namun sayangnya semua itu tidak dapat dilihatnya lagi. Ternyata maut mendahului putra tunggalnya. Ibu tua yang malang itu pergi meninggalkan semuanya sebelum bertemu dengan anak kandungnya itu.

Orkamp1 : Ue eda, kasihan kali lah mamak si Tagor itu. Sampai matipun tidak di lihat si tagor, sambor lah bah nasib nya itu.

Orkam2 : Itulah eda kita ini, kalau sudah merantau gak ingat lagi dengan kampong halamanannya.

Orkam1 : Atik naung mate nya dia di rantau sana. Taulah eda kek mana si Tagor itu.

Orkam2 : Eh tahe bah, mudah-mudahan ga kek gitu anak kita ate eda.

Bapak2 : (Masuk) Bah dari mana kalian berdua ito?

Orkam2 : Ini amang, dari rumahnya mamak si Tagor.

Bapak2 : Kenapa rupanya dengan mamak si Tagor, apa udah pulang nya si Tagor itu?

Orkam1 : Masa amang tidak tahu. Mamak si Tagor udah meninggal tadi malam.

Bapak2 : Bah, kog aku tidak di kasi tau ya. Kapan diantar ke udean?

Orkam2 : Baru saja amang. Ngeri hian bah.

Bapak2 : Sambor kali lah nipinya mamak si Tagor ini. On ma tahe molo anak kon tidak bisa diharapkan. Antong kalau begitu aku permisilah dulu ito. (Pergi)

Orkam1 : Olo amang. Kamipun permisilah dulu (Mereka berdua turun)

BAGIAN VI

Prolog : Beberapa hari kemudian Tagor sampai di kampong halamannya. Rasanya dia ingin berlari menyongsong ibunya dan meluapkan segala rasa rindu dan kebahagiaannya terhadap ibu yang dicintainya. Suasana kampungnya yang masih seperti dahulu membuat Tagor merasa prihatin. Sementara di balik kebahagiaannya itu, dia tidak tahu kalau dia tidak akan menemukan orang yang dicarinya. (Lagu Tano Toba)

Tagor : Bah, kek gini aja keadaan kampong ini mulai aku tinggalkan. Ga ada yang berubah. Tapi biarlah, aku tidak peduli dengan kampong ini. Bukankah kampong ini yang tidak menerima kehadiranku dan ibu ku. Yang penting sekarang aku sudah pulang membawa banyak uang untuk ibuku. Setelah itu aku dan ibu akan meninggalkan kampong ini. (sambil tersenyum)

Bapak2 : (Lewat)

Tagor : (Memanggil) Amang uda!!

Bapak2 : (Menghampiri) Ada apa anak muda? Ise do hamu?

Tagor : Bah gak kenal lagi amang uda sama ku. Amang uda kampong kan?

Bapak2 : Oh saya tidak kampong lagi, itu 7 tahun yang lalu.

Tagor : Iya lah dulu. Jadi amang uda udah lupa sama aku?

Bapak2 : Siapalah ya, tapi kayaknya wajahmu tidak asing. Parhutaon do ho tahe?

Tagor : Parhuta on do au amang uda. Ue udah tua rupanya amang uda ini. Si Tagor nya aku uda.

Bapak2 : (Terkejut) Si Tagor? Ue ai ho do I hape. Bah sudah suksek kau sekarang ya. Sampai tidak kenal lagi amang uda sama mu.

Tagor : Songon-songon I lah uda. Yang penting bisa kita makan.

Bapak2 : Jadi sekarang kau pulang jangan-jangan sudah mau mangoli kau.

Tagor : kalau yang mangoli itu nantilah dulu itu amang boru. Naeng melihat mamaknya aku pulang. Sudah 10 tahun kami tidak jumpa.

Bapak2 : Mau melihat mamak mu?

Tagor : Iya, memang kenapa uda?

Bapak2 : (Merangkul pundak Tagor) Begini Tagor, kau sepertinya tidak tau.

Tagor : Tidak tau apa uda (Bingung)

Bapak2 : Begini Tagor, kau terlambat. Mamak mu udah pergi untuk selamanya. Baru tiga hari yang lalu di kuburkan.

Tagor : Ah uda ini, tabo hita uda margait.

Bapak2 : Benar Tagor, kalau kau tidak percaya tanyakan pada orang-orang kampong. Kuburan mamakmu dibuat di belakang rumah mu.

Tagor : (Sedih) Botul uda?

Bapak2 : Iya Tagor. Sabar lah kau ya, ini sudah takdir. Kalau begitu uda pergi lah dulu. (Pergi)

Tagor : (Menangis,,Lagu Tading ma Ham)

Prolog : Saat itu juga, rasanya hati Tagor hancur bagaikan terinjak-injak ribuan kereta kuda. Semua yang dicapainya dirasakan sia-sia. Dia tidak sempat mempersembahkan sebuah impian yang telah dijanjikannya kepada ibunya. Riak-riak danau toba seakan-akan ikut menengelamkan dirinya dalam kesedihan yang amat sangat.

Tagor : Mungkin inilah perjalan hidup yang telah aku pilih. Semuanya berjalan tanpa bisa aku rencanakan. (Memandang ulos ibunya). Disaat aku membawa ribuan kebahagiaan untuk ibu, tetapi aku hanya menemukan jutaan kesedihan. Sampai kapan pun, aku akan menangisi kebodohanku. Aku bekerja keras dan mengumpulkan uang hanya untuk mamak, tetapi kenyataan berkata lain untuk apa ini semuanya. Pesan ku untuk kalian para anak-anak yang merantau, Arga do Bona Ni Pinasa (Pergi)

Prolog : Demikian drama singkat yang berjudul Si doli Parjalang. Semoga drama ini memberikan kita inspirasi dan pesan moral sebagai perantau yang telah jauh meninggalkan kampong halaman agar ingat kampong halaman. (Semua Pemain Naik ke panggung………..Lagu Arga do Bona Ni Pinasi)

SI DOLI PARJALANG

4 Komentar to “SI DOLI PARJALANG”

  1. Ringan tapi berbobot !! Aku suka lae………

  2. Lungun rohakku mambaca prolog on bah… Gabe lam tamba holong niba na mar natua2 i…
    Tu akka dongan parjalang..asa hita ingot mulak marsihol2 tu bona pasogit.Tar lumobi tu akka natua2 ta.. Horas ma. GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: