ISE DO AHU….????

oleh lamasi

1_951939142l2

PENGELANA DARI BARAT

Aku baru sadar bahwa hampir 20 tahun aku mengenal kehidupan ini. Namun aku masih bingung tentang apa yang telah aku lakukan dan aku berikan selama 20 tahun aku hidup. Inilah yang membuatku sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa dan belum ada artinya bagi orang lain.

Aku lahir sejak 17 Agustus tahun 1989 silam dari pasangan Bapak St. L. Hutabarat dan ibu R. Lumban Gaol. Inilah satu masa yang membuatku ada di dunia ini hingga saat ini. Dilahirkan disebuat desa di kecamatan Tarutung membuatku tumbuh menjadi seorang anak desa yang berbeda dengan teman-temanku saat ini yang sebagian besar berasal dari kota besar. Namun aku telah menikmati sebuah kehidupan yang damai dan tenteram yang tidak semua orang dapat merasakannya.

Lahir dari keluarga sederhana dan serba pas-pasan tidaklah membuat kedua orang tuaku berhenti berjuang untuk menyekolahkan tiga orang anak-anak mereka. Walau terkadang mereka harus membanting tulang dan berlari kesana sini mencari pinjaman saat pesan singkat datang “ Mak, uang kuliah, uang kos, uang makan dan uang lainnya..” Pekerjaannya yang hanya seorang pegawai pesuruh di kantor pemerintah, memaksanya harus berusaha mencari pekerjaan tambahan di samping pengabdiannya kepada Negara.

Sebagaimana hidup sebagai anak kampung, saya didik dengan ajaran kolot para orang tua disamping pendidikan formal yang didapatkan dari sekolah. Tahun 1995, masuk SD Impres Parbubu Pea. Salah satu SD termiskin dan kekurangan tenaga pengajar di wilayah kabupaten Tapanuli Utara. Namun sejak tahun 2000, tepatnya kelas 5 SD, saya harus meninggalkan sekolah itu dan teman-teman yang ada disana. Mengikuti orang tua pindah ke rumah yang baru, yang letaknya lumayan jauh dari sekolah itu. walaupun masih sama-sama di wilayah kecamatan Tarutung, sejak kepindahan itu hingga saat ini, tidak pernah lagi datang ke sekolah yang telah mengajarkan aku alphabet, angka dan yang lainnya.

Lulus dari SD Negeri 173123, melanjut ke SMP Negeri 4 Tarutung pada tahun 2001. Namun sejak tahun 2003, dengan dimekarkannya kecamatan Siatas Barita, nama sekolah juga ikut ganti menjadi SMP Negeri 3 Tarutung. Selama tiga tahun menuntut ilmu di sana. Tahun 2004, diterima di SMA Negeri 1 Tarutung. Saat hari pertama Orientasi Sekolah, terpilih menjadi ketua Kelas X.3 yang bakal membuatnya dikenal di kemudian hari. Satu tahun menjalani pendidikan di kelas X, setelah hari pertama di kelas XI, seorang pengawas dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tarutung bertugas sebagai Inspektur upacara pada upacara penaikan bendera perdana tahun ajaran 2005/2006. Dalam pidatonya beliau mengumumkan tentang rencana pemekaran SMA Negeri 1 Tarutung yang secepatnya akan dilaksanakan.

Sebuah pemekaran yang kelak akan membawa Agust pada sebuah perubahan yang selama ini tidak pernah dibayangkannya. Tepat tanggal 1 Agustus 2005, SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 2 Tarutung resmi dipisahkan. Agust yang sebelumnya berada di kelas XI IPA 2, naik menjadi XI IPA 1 SMA Negeri 2 Tarutung. Dalam proses peralihan ini, terjadi kekosongan dalam tubuh kepengurusan OSIS SMA Negeri 2 Tarutung. Hampir seluruh pengurus OSIS SMA Negeri 1 Tarutung dibawa ke SMA Negeri 2 Tarutung, hingga yang tinggal sekitar 6 orang pengurus OSIS eks OSIS SMA Negeri 1 Tarutung. Tanpa menunggu lama, ke-6 orang ini, yang salah satu di dalamnya adalah Agust, segera mengadakan rapat siswa dengan mengundang perwakilan setiap kelas, yang dalam hal ini diwakili oleh ketua kelas, sekretaris kelas dan bendahara kelas. Selain sebagai eks pengurus OSIS, juga sebagai ketua kelas XI IPA 1, Agust hadir dalam rapat penting itu. Rapat darurat berhasil mengangkat Agust menjadi ketua OSIS pertama SMA Negeri 2 Tarutung dengan masa jabatan 2005/2006.

Setelah menamatkan pendidikan di SMA Negeri 2 Tarutung pada tahun 2007, diterima di Universitas Negeri Semarang jurusan Ilmu Hukum melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), sejak itu pindah ke Semarang untuk kuliah. Sejak tahun 2007, dia tercatat sebagai mahasiswa fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang angakatan ke-8. Satu semester pertamanya dijalani biasa saja selayaknya seorang anak baru yang dalam tahap penyesuaian. Namun kerinduannya dengan organisasi semakin hari semakin dalam, namun apa boleh buat, statusnya yang masih mahasiswa baru belum memungkinkannya untuk eksis di lembaga kemahasiswaan di kampusnya. Untuk memuaskan kerinduannya, dia sering ikut diskusi dengan kakak seniornya yang tergabung dalam komunitas Cempaka Square.

Pada bulan januari tahun 2008, diadakan Open Recruitment fungsionaris BEM Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang. Terpilih dan dipercaya sebagai staf ahli Departemen Advokasi dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Dari organisasi inilah dia kembali menemukan bagian dari roh nya yang sempat hilang dari raganya. Tidak cukup hanya itu, dia kembali mencari-cari sebuah organisasi mahasiswa yang sejak lama telah di carinya. Tepat awal bulan April di ikut dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia DPC Semarang hingga kini.

Walaupun kata orang di jurusan Hukum peluang kerjanya sudah sangat kecil, dia tidak peduli. Sekecil apapun peluangnya itu, tetapi jika masih ada ada peluang itu akan tetap pasti dijalaninya. Selalu ingat ayat malua (Sidi) nya, Roma 10:13; “Sebab Barang Siapa yang berseru Kepada Nama Tuhan, akan Diselamatkan (Ai Malua Do Ganup Na Manjou Goar Ni Tuhan i)”. juga dia percaya kepada doa Bapa Kami,,,,”Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” , yang berarti Tuhan pasti menyediakan apa yang kita butuhkan dalam menjalani kehidupan ini.

Tertarik dengan dunia tulis menulis sejak SMP, Agust sudah membuat tulisan entah berapa jumlahnya. Walaupun belum pernah dipublikasikan dan memenangkan sebuah kejuaran dalam bidang ini, tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk tetap berkarya. Menulis baginya, bagaikan sebuah pengembaraan mencari jati diri, yang bagi semua orang belum berarti namun berarti banyak bagi dirinya sendiri. Hal yang paling disadarinya saat menulis yaitu berkarya untuk memaknai dan memberi arti untuk apa dia hidup bukan untuk membawanya dalam sebuah ketenaran yang terkadang berlebihan.

Dalam pengembaraan hidupnya, masih banyak hal yang harus dipelajarinya. Keyakinannya membawanya pada sebuah tekad yang membaja. Yakin bahwa waktu akan menempanya menjadi manusia yang seutuhnya. Maka dia berjuang dan terus berjalan berkelana ke dalam dunia yang baru untuk memahami untuk apa dia tercipta. Dan terakhir dia menjadi salah satu pelopor berdirinya UKM IMKH Fakultas Hukum.

Demikian sejumput perjalanan hidup seorang Agust Hutabarat, yang berkelana dari Pulau dibagian barat negeri ini untuk mencari jati diri dan pengalaman hidup yang diyakininya sebagai guru yang paling berharga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: