KEADAAN YANG MEMAKSA

oleh lamasi

diam3

Salah satu hal yang paling ku benci dari diri ku sendiri adalah terlalu memikirkan keadaan yang ada disekitarku, walaupun sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan diriku. Terkadang inilah yang membuatku menjadi sedikit agak gila dari teman-teman yang lain. Apa yang lewat dan terjadi disekitarku, penting atau tidak semuanya pasti akan menjadi beban pikiran bagiku.

Setiap hari aku bertanya tentang kehidupan ini. Sebenarnya jika ada orang yang bisa hidup bahagia dengan segala kelimpahannya, kenapa harus ada orang yang hidup susah dengan segala keterbatasannya. Apakah ini yang disebut dengan kehidupan yang adil, yang mana jika ada yang bahagia pasti ada yang bersedih, jika ada yang yang berkelimpahan maka ada juga yang kekurangan. Aku sungguh tidak mengerti tentang kehidupan ini.

Suatu waktu, biasanya saat malam minggu, teman-teman kadang mengajak aku turun ke Semarang bawah. Tepatnya ke Simpang Lima Semarang dekat kampus UNDIP Peleburan, walaupun sebenarnya kami hanya anak-anak UNNES. Tapi kapan lagi kita bersosialisasi dengan alam perkotaan, masa terkurung terus di Sekaran yang tidak lebih dari sebuah kampung yang hanya ramai oleh kehadiran para mahasiswa.

Seperti biasanya sepanjang jalan Pahlawan mulai dari Simpang Lima sampai ke depan Polda Jateng, setiap malam ramai oleh pengunjung yang memasuki warung tenda yang terkenal dengan sebutan Kucingan (Angkringan). Kucingan ini terkenal sekali di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Kata kucingan ini sendiri diambil dari kata Nasi Kucing (Sego Kucing). Dalam hal ini bukan berarti nasi untuk kucing, atau nasi bekas makanan kucing. Tapi lebih dari itu, nasi kucing itu adalah nasi dengan porsi yang minimalis, seperti makanan kucing rumah pada umumnya. Makanya disebut Nasi Kucing (Sego Kucing).

Apalagi kalau malam minggu, saat cuaca cerah dan langit begitu indah oleh bintang-bintang. Biasanya jika ada pertandingan bola, di TV besar yang ada di Tugu Pahlawan menjadi tempat nonton bareng, dan itu artinya pasti kemacetan sangat menyebalkan. Maklum saja, sambil malam mingguan nonton bola dengan teman-teman, keluarga atau pacar. Bayangin saja berapa jumlah pengunjung yang datang. Mulai dari orang-orang seperti kami yang jumlahnya ratusan, komunitas motor (tapi bukan gank motor loh), keluarga yang sedang menikmati malam minggu, pengamen/pengemis, SPG dan lain sebagainya.

Ketika semua orang sibuk dengan obrolan atau pertandingan bola, maka aku sibuk mengamati segala bentuk kehidupan yang ada, yang kata teman-temanku aku ini kurang kerjaan. Biasanya aku mengamati para pengemis yang berjalan ditengah keramaian. Para pengemis tua dan anak-anak, biasanya memang anak-anak dan orang tua. Ditengah canda tawa para pengunjung dan suguhan yang beranekaragam, mereka berjalan dari kucingan ke kucingan, dari gerombolan ke gerombolan demi uang receh yang mereka kumpulkan. Terkadang mereka mendapatkan beberapa uang ribuan, tapi lebih sering mereka tidak dihiraukan kehadiran mereka. Dan yang paling aku ingat jelas adalah seorang pengemis, seorang ibu tua. Setiap aku nongol di tempat ini pasti aku akan melihat ibu itu.

Wajahnya yang sudah keriput dengan langkah yang tertatih-tatih dan tubuh yang sudah mulai bungkuk, berjalan kesana kemari. Usianya menurut perhitungan ku tidak kurang dari 70 tahun. Aku yang pada dasarnya sangat mudah untuk terpancing oleh suasana, memandang dengan iba ke arah ibu tersebut. Aku terbayang dengan dua orang nenek ku yang sudah tua dan masih sehat. Usia mereka hampir sama dengan ibu itu. Disela-sela mobil mewah yang terparkir dengan posisi miring 45 derajat, dia berjalan mengharapkan beberapa keping recehan sisa kembalian nasi kucing. Aku tidak pernah tahu tentang nenek itu dan aku sendiri tidak pernah kenal dengannya. Apakah keadaannya memang sesusah itu, atau seperti kata orang-orang, jangan pernah terlalu iba kepada para pengemis dan pengamen, karena sesungguhnya mereka memiliki banyak uang. Apakah itu semua benar? Tapi yang jelas aku hanya iba akan keadaan yang telah memaksanya untuk menjadi seorang pengemis ditengah malam.

Di lain sisi, beberapa SPG sebuah produk rokok berjalan dari kucingan ke kucingan. Penampilan mereka berbeda dengan para pengemis atau pengamen. Mereka cantik, bersih, rapi, ramah, pokoknya sangat enak dipandang mata. Mereka berjalan dari sana ke mari, saat semua orang menikmati malam minggu dengan santai, mereka menikmati malam minggunya dengan tetap bekerja sebagai SPG.

Pengunjung yang sebagian besar adalah kaum pria menjadi tujuan penjualan produk mereka. Memang kenyataan bahwa pecandu rokok sebagian besar adalah pria. Hanya sedikit pria yang tidak merokok, dan saya inilah salah satu. Dengan sedikit senyum manis, mereka menawarkan produk mereka dengan olesan kata-kata promosi. Tapi alangkah kasihannya mereka, selain karena harus bekerja di malam minggu ini, terkadang mereka tidak luput dari godaan laki-laki iseng yang matanya jelalatan. Mereka memang cantik dan pantas untuk digoda. Tapi menurutku mereka bisa mendapatkan perlakuan yang layak atas kecantikan mereka, lebih dari sebuah godaan nakal yang hanya menghina martabad dan kehormatan seorang wanita. Aku tidak pernah tahu mereka itu wanita baik-baik atau sebaliknya, tetapi kasusnya berbeda. Bahkan seorang pelacur sekalipun berhak untuk diperlakukan dengan layak sebagai seorang wanita dan manusia.

Seringkali aku harus terdiam untuk bertempur dengan nurani. Saat seseorang menjadi pengemis, mereka dicemooh dan dianggap malas. Di lain pihak ada orang yang bekerja dengan susah payah, namun mereka tidak mendapatkan perlakuan yang layak dan terkadang tidak dihormati martabatnya. Aku menjadi berpikir, jadi sesungguhnya kehidupan ini berpihak kepada siapa?

Sementara keadaan semakin susah. Hidup tidak pernah mudah, di dunia ini yang gratis tinggal tarikan nafas saja. Jika seandainya bernafaspun akan dikenai pajak, bagaimana nasib kita. Saat bernafas masih gratis saja, banyak orang yang terengah-engah berlari kesana kemari hamper kehabisan nafas. Terlalu banyak orang yang tidak beruntung di Negara. Sementara pemerintah menjadi momok yang seakan-akan tidak berpihak kepada orang-orang seperti mereka, bahkan dari masa ke masa.

Banyak orang menjadi miskin di negeri yang kaya raya ini. Mereka miskin bukan karena kemauan mereka, atau takdir mereka. Banyak orang menjadi miskin karena dimiskinkan oleh sistem. Bahwa semakin banyak saja kebijakan yang tidak lagi berpihak kepada rakyat, dan memang itulah kenyataannya. Dari kenyataan itu keadaan menjadi serba sulit, sehingga keadaanlah sesungguhnya yang memaksa adanya pengemis, pengamen, pedagang asongan dan pedagang kaki lima, gelandangan, pencuri, perampok dan lain sebagainya.

Di Negara ini mereka seakan-akan telah ditimbang dan dihitung, lalu harga mereka telah ditentukan. Mereka hanya bisa diam, tanpa tahu harus kemana bisa mengadukan nasib mereka. Wakil rakyat yang mestinya menjadi penyambung lidah mereka, kini berlomba nongol di TV dengan berbagai kasus, baik kasus suap, korupsi atau perselingkuhan. Aku heran dengan kehidupan ini, otoritas dari undang-undang ditutupi oleh banyangan para pejabat korup. Semuanya bisa dibeli dan ditimbang untuk ditentukan harganya, dan kini yang tinggal hanyalah masyarakat kecil yang terdiam tanpa bisa bicara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: