SAAT-SAAT YANG TELAH BERLALU

oleh lamasi

1_404078091lIni adalah minggu kedua setelah liburan, rasanya setiap malam semakin sepi saja. Mungkin mahasiswa lainnya sudah pada pulang kampung, termasuk teman-teman satu kos ku. Tapi tak apalah, bukankah keadaan hening seperti saat ini, aku lebih bisa menikmati keindahan dari kesunyian ini.

Aku menghela nafas panjang. Waktu baru menunjukkan pukul 7 malam , tapi rasanya sudah seperti tengah malam. Aku berjalan ke luar dan mengunci pintu kamarku, aku memandangi gang di depan kos ku yang sudah semakin sepi. Biasanya gang ini menjadi salah satu gang tersibuk di tempat ini, tapi sekarang dia begitu diam dan sunyi. Aku duduk di bangku kayu reot yang ada di teras kos ku. Sejenak aku melihat ke atas, bintang mulai muncul kembali. Sudah lama aku merindukan bintang-bintang tua yang indah itu. Adakah cerita yang ingin mereka bagi dengan ku malam ini?

Aku ingin sekali berayun-ayun di atas sana bersama bintang-bintang di angkasa biru itu. Dari sana aku dapat memandangi kehidupan yang semakin fana ini. Aku bahagia menyambut sahabat tuaku itu, mereka telah bersembunyi selama beberapa bulan saat bumi ini dibasahi air hujan, dan malam ini mereka mengunjungiku. Mereka menyapaku dengan senyuman bulan sabit yang begitu indah mempesona. Ceritakanlah apa yang kau saksikan dari atas ketinggian itu sahabat ku!

“ Bintang, bagaimana kabarmu malam ini?” Mereka tersenyum memandangku. Lagu-lagu romantis milik Jikustik mengalun lembut dilaptopku. Alam yang terdiam mendesah melihat kami begitu bahagia, dua sahabat yang saling merindukan. “Aku ingin sekali memberitahu mu, aku rindu sekali dengan sahabat-sahabatku waktu SMA dulu?” Aku terus berbicara, sementara mereka masih tersenyum seakan mengerti arti kerinduanku yang sangat dalam.

Aku membagi cerita ku yang indah itu. Aku mengulang kembali saat-saat yang sudah berlalu dengan mereka. Aku ingin mereka mengerti apa itu persahabatan, apa itu kenangan. Mereka harus tahu, kalau disuatu tempat di dalam kehidupan ini aku masih memiliki banyak teman, sahabat yang aku rindukan dan mungkin juga merindukan aku. Wajah-wajah mereka melintas begitu saja di depan mataku, seakan-akan seseorang memasang layer dan membuat slide show foto-foto mereka. Mereka, sahabat-sahabatku yang super-super nyebelin tapi sangat peduli dengan teman. Andaikan waktu ini bisa menghadirkan mereka kembali dihadapanku aku akan berteriak ke seantoro galaksi. Akan kuberitakan bahwa aku punya sahabat yang sangat kurindukan.

Di sini aku tidak pernah mendengarkan suara jangkrik. Tidak seperti di rumah, derik jangkrik bagaikan tembang tidur yang sangat merdu. Akh… semua ini membuatku semakin rindu saja. Kira-kira apa yang mereka lakukan nun jauh di seberang sana? Aku tersenyum, seakan-akan aku tahu apa yang mereka lakukan. Seakan-akan aku melihat sedang apa mereka sekarang. Aku ingin mengajak mereka mengendarai bintang, mengelilingi galaksi dan berpetualang di jagat raya.

Semasa SMA dulu, tepatnya semasa kelas XII IPA 1 saat-saat terakhir kami di sekolah, ada cerita yang tercipta dari setiap langkah dan nafas yang kami buat. Kelas yang dulunya monoton, diam dan tidak begitu kompak berubah menjadi surga yang indah. Menjadi sebuah ruangan yang nyaman. Rasanya aku belum bisa melupakan bagaimana suasana saat itu. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba masuk ke dalam sel-sel otak ku yang paling dalam. Aku mencoba mengali kembali memori-memori yang tersimpan di otakku. Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukannya.

Aku ingat sekali, usai Ujian Akhir Nasional, suasana sudah begitu rileks. UAN yang menakutkan itu sudah terlampaui, walaupun sebenarnya kami belum tahu hasil akhirnya. Saat itu kami hanya berfikir, UAN sudah berakhir, urusan lulus gak lulus nanti dulu. Ada sekitar dua minggu lagi untuk menyelesaikan ujian akhir sekolah. Selama masa dua minggu ini, no time for study. Kami datang ke sekolah, duduk sebentar, ngobrol dan lari lewat pagar belakan kantor kepala sekolah.

Dalam masa-masa terakhir ini kami mengukir prestasi yang melekat di tembok sekolah, dinding kelas, meja dan kursi di ruangan. Jika kelak mereka ditanya dan disuruh membeberkan apa sebenarnya yang kami lakukan, pasti mereka akan menceritakan semuanya dari A sampai Z. Semuanya bercerita tentang tawa, tangis dan canda. Semuanya sudah kami lalui selama tiga tahun dan akan segera berakhir dalam hitungan dua minggu.

Dalam hal ini aku teringan dengan Hetty temanku. Sesosok wanita tinggi besar, berambut panjang lurus, kulit putih, rajin, cerewet, rapi, bersih. Semua embel-embel ini membuatnya menjadi miss cerewet sepanjang masa. Tapi aku sangat merindukannya, dia begitu baik, peduli dengan orang disekitarnya. Dia ini menjadi menantu rebutan antara bapak Kepala sekolah, bapak Pembina OSIS, bapak wali kelas XII IPA 1, ibu R. Simorangkir dan ibu R. Sitompul.

Satu hal yang paling aku ingat dan tidak ingin aku lupakan yaitu kata-kata yang selalu dia ucapkan saat aku sedih. “ Hai Gus, kamu kok gak kayak biasanya. Kamu lagi sakit atau lagi banyak masalah ya?”. Kata-kata yang begitu sederhana, tidak putis, singkat namun menggambarkan sebuah kepedulian yang tulus. Sehingga sampai sekarang, saat aku menghadapi banyak masalah, aku masih sering merindukan kata-kata itu. Jujur, kata-kata itu mungkin tidak berarti banyak baginya, tapi itu lebih dari bermakna buatku, dan aku yakin ada sebuah rahasia yang terkadung di dalamnya. Kata-kata itu cukup membuat orang yang down bangkit kembali. Malah aku yakin kata-kata itu mampu untuk membangkitkan orang mati dari kuburnya, (coba aja Ti, siapa tahu ngefek).

Aku juga merindukan Yessy. Temanku yang satu ini tidak jauh beda dengan Hetty. Super nyebelin, cerewet, baik, peduli tapi tidak begitu rapi. Yah 11-12 dengan aku yang urakan. Aku paling senang ngobrol dengan mahkluk yang satu ini. Dia adalah mahkluk yang tidak ada takutnya, tapi terkadang yang membuatku bingung, dia malah takut dengan hal yang sepele. Misalnya, dia paling takut sama orang gila dan anjing. Dia senang menantang bahaya, seperti bepergian gak pakai helm, pas pak polisi memanggil dia, cukup dengan membunyikan klakson motornya dan berlalu seakan-akan tidak pernah ada masalah. Ada-ada saja memang temanku yang satu ini.

Heru, teman yang selalu stay cool dan paling cuek bebek. Satu-satunya orang yang tidak pernah marah saat aku ejek. Kadang aku menyesal menggodanya berlebihan, apalagi mengingat dia tidak pernah marah. Tampangnya biasa saja, tapi menyimpan pesona yang sulit untuk dimengerti. Apakah mungkin dia ini termasuk dalam golongan cowok idaman. Bukan sebuah kebohongan kalau aku menyebutnya menjadi salah satu cowok incaran wanita di sekolah ku dahulu.

Mungkin itulah beberapa teman yang paling aku rindukan untuk saat ini. Dan jika kembali ke sekolah, aku ingin mendengar suara daun-daun pinus yang tertiup angin lembah. Serta nyanyian sunyi yang berasal dari dolok Sitare-tare. Aku ingin mendengar penuturan mereka, tentang semua kenangan kami. Saat dulu kami mencoba membuka sekrup pagar besi di belakang kantor kepala sekolah dan satu persatu turun secara diam-diam. Ini kami lakukan karena kami tidak mendapat izin untuk pulang, padahal proses belajar-mengajar sudah usai sejak UAN dimulai.

Inilah hal tergila yang pernah kami lakukan selama kami bersama. Entah siapa yang telah mengajukan ide tolol dan berbahaya itu, tapi seingatku hampir semua orang mendukungnya. Aku ingat saat satu persatu siswi kelas XII lewat dari celah pagar yang sempit itu. Awalnya mereka merengek dengan segala tetek bengek mereka. Aku ingat betul apa yang mereka ucapakan.

“ Pegangin…. nanti aku jatuh.” Mereka merengek manja, seperti seorang anak kecil yang meminta untuk dipegangin saat melewati jembatan yang hampir roboh. Hal ini jelas saja membuat siswa yang lain menjadi sebal. Entah siapa pelakunya tiba-tiba dari arah depan seseorang berteriak.

“ Woi, Pak TS datang!” Mereka yang sudah terlanjur berdiri di atas pagar dan di luar pagar, melompat dan berlari pontang-panting. Rengekan minta dipegangin tidak ada lagi. Sementara mereka yang masih di dalam pagar, memasang wajah polos menyebalkan dan tetap stay cool. Ada-ada saja kami ini.

Setelah dipastikan keadaan sudah kembali aman, aksipun dilanjutkan. Semua bergotong-royong, saling tolong-menolong. Ada yang menahan pagar besi, ada yang memegangin orang yang sedang turun dan ada yang bertugas sebagai tim penjaga. Pokoknya semuanya kompak demi satu tujuan, yaitu cabut bareng-bareng dari sekolah. Mungkin inilah kenangan paling seru sekaligus yang paling nakal dan yang terindah yang pernah kami alami bersama. Dan setelah ini memang tidak ada lagi, karena setelah ujian akhir sekolah usai, kebanyakan teman-teman berangkat ke Medan untuk mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan SPMB.

Sebagian besar dari kami sudah bersama sejak kelas X, dan beberapa orang lagi menjadi satu kelas kami di kelas XI. Mungkin inilah yang membuat kami menjadi seperti saat ini. Walaupun terkadang ada sedikit perpecahan, tapi itu manusiawi. Apalagi masa ketika kami baru dimekarkan dari SMA Negeri 1 Tarutung. Saat itu kami dimasukkan di SMA Negeri 2 Tarutung. Masa peralihan yang sulit inilah yang membuat kami semakin yakin dan sadar akan kekompakan. Kami harus kompak menghadapi anggapan orang-orang yang menyebut sekolah kami, SMA buangan. Kami harus kompak menhadapi saat orang-orang menyebut sekolah kami, SMA no 2.

Waktu dan masa telah mengajari kami, ejekan, penghinaan dan pandangan sebelah mata menjadi guru yang menempa kami untuk lebih yakin, lebih baik, lebih akrab, lebih sadar, lebih mampu dan lebih dari segala-galanya dan lebih dari yang semestinya tidak pantas untuk kami dapatkan. Tapi itulah kenyataan yang telah kami lewati bersama, dengan berbagai bumbu kehidupan. Ada yang manis, asam, asin dan bahkan yang paling pahit. Tapi kami membuktikan bahwa kami memang bisa.

Aku terdiam, aku masih memandangi angkasa yang semakin malam semakin indah saja. Aku bahagia membayangkan, mereka semua sedang melakukan dan memikirkan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan dan pikirkan saat ini. Dalam keheningan malam yang indah ini aku dapat tertawa lagi, setelah kesepian yang menyakitkan beberapa waktu lalu menyerangku bertubi-tubi. Dalam euphoria kebahagiaan ini, tiba-tiba seseorang mengagetkanku.

“ Nuwun sewu mas.” Aku berpaling ke arah sumber suara, tiba-tiba saja wajahnya sudah di depan mataku.

“ Wah…..!!” Aku terkejut bukan kepalang. Dikagetkan seperti itu aku jatuh kelantai. Tubuhku yang sedikit melebihi ukuran normal jatuh berdentum di atas lantai keramik. “Aduh…..” Aku mengeluh sesaat.

“ Maaf mas, minta jempitan.” Katanya kaget dengan apa yang terjadi barusan.

“ Pinten mas?” Tanyaku gusar.

“ Telu ngewu mas.” Jawabnya.

“ Ki.” Aku menyerahkan tiga lembar uang ribuan, sambil masuk ke dalam.

“ Matur suwun mas. Paring.” Katanya sambil berlalu.

Sambil memegangi pantatku yang masih sakit aku membuka pintu kamarku. Rasa sakit yang bersarang di pantatku membuatku tidak bisa konsentrasi dan mengulang kembali apa yang tadi aku lakukan. Aku duduk di atas ranjangku yang empuk, setelah itu aku menyadari,aku sedang bernostagia ke masa dua tahun silam. Aku mematikan laptopku setelah lagu “Pesta” miliknya Jikustik selesai diputar.

Selamat malam teman-teman, bermimpilah malam ini. Mimpikanlah semua tentang kita. Kelak kita akan kembali ke sana untuk mengulang kembali cerita kita. Walaupun saat itu kita sudah menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek. Biarlah kenangan kita tidak akan lekang oleh ruang dan waktu. ***

2 Komentar to “SAAT-SAAT YANG TELAH BERLALU”

  1. Kenangan masa sma itu memang begit indah… Kita sering rindu ingin kembali ke masa itu… Bah, jadi ikut pula bapaktua kau ini ber-mellow-ria… Bah, ai naung adong do sma 2 di Tarutung? Di dia lokasi na tahe?

  2. Udah ada sejak tahun 2006 lalu Bapak Tua, lokasinya di SMK N 1 yang di atas kuburan Cina itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: