PINTU YANG SELALU TERBUKA

oleh lamasi

penantian

Mereka berdua duduk, mungkin mengingat-ingat masa romantis mereka yang sudah lama berlalu. Rambut yang memutih memberitahukan bahwa waktu telah membawa mereka menjelajahi kehidupan ini begitu lama. Sekarang mereka kembali berdua, sama seperti lima puluh tahun silam saat usia belum begitu senja.

Terkadang salah seorang dari mereka berdiri, menoleh sebentar ke luar pintu dikala seseorang lewat dari depan pagar yang hampir ambruk itu. Wajah keriput yang menanti itu, lesu bersandar pada pintu tua yang bentuknya tidak simetris lagi. Dia memandangi dengan pilu ke ujung jalan menantikan orang yang begitu mereka rindukan. Kepiluan semakin menyayat saat mereka memandangi orang-orang di luar sedang bergembira menyambut anaknya datang dari rantau. Sementara mereka, menanti dalam sebuah ketidakpastian. Alangkah perihnya hati mereka.

Saat orang-orang mulai menutup pintu dan jendela, jelas sekali mereka begitu sedih. Entah apa yang membuat mereka terdiam dan lesu di senja yang mendung ini. Lampu minyak usang yang menyala di sudut ruangan, tak cukup menerangi seisi ruangan yang tidak begitu besar ini. Sumbunya yang sudah mulai habis dinyalakan kecil saja, mereka kini serba menghemat dan kekurangan. Di hari tua yang kesepian itu mereka hanya bisa mengenang segala masa lalu mereka yang entah kapan akan terulang lagi.

Nenek itu berdiri dengan tertatih-tatih, penyakit reumatik yang menderanya selama bertahun-tahun membuatnya tidak bisa berjalan dengan baik. Mungkin ini menjadi kenangan keperkasaannya dahulu saat usianya masih muda. Lantai papan rumah panggung yang sudah tua itu berderik saat kaki si nenek melangkah. Lemari kecil di sudut ruangan yang di atasnya diletakkan lampu minyak dibuka perlahan. Pintu lemari yang sudah rusak di tahan dengan karet ban bekas. Dia membungkuk dan mencari-cari sesuatu diantara lipatan baju yang tidak seberapa.

“ Kek, apakah anak-anak belum juga pulang?” Tanya nenek sambil terus mencari-cari sesuatu di dalam lemari.

“ Belum nek, mungkin mereka tidak datang hari ini.” Kata kakek sambil menghela nafas panjang.

Akhirnya nenek menemukan apa yang dicarinya. Dia mengambil selembar foto hitam putih yang sudah mulai kabur. Tampak dalam foto itu sebuah keluarga dengan orang tua dan tiga orang anak, yang paling besar adalah anak perempuan, yang kedua dan ketiga adalah anak laki-laki. Nenek mendekatkan foto itu ke lampu minyak di atas lemari sambil memandanginya dengan matanya yang sudah mulai rabun.

“ Apakah mereka sudah lupa dengan kita ya kek?”

“ Jangan bilang seperti itu nek, mungkin mereka belum punya waktu untuk mengunjungi kita di rumah ini. Nanti mereka juga pasti datang.”

“ Tapi kapan kek? Kita sudah tua kek, usia kita sudah tidak lama lagi. Apa mereka mau pulang kalau kita nanti sudah meninggal.”

“ Jangan berprasangka buruk terhadap anak-anak, sudahlah nek.”

Nenek akhirnya diam, diam seribu bahasa entah apa yang kini bergejolak di dalam dadanya. Mungkin harapan tuanya yang hanya tinggal sedikit itu kini padam. Entah apalagi yang ingin diucapkannya, namun lidahnya sudah cukup pahit untuk mengucapkan harapan manis. Dia menangis sambil memeluk foto usang itu. Semakin lama isak nenek semakin pilu, kerinduannya kepada ketiga orang putra-putrinya tidak tertahankan lagi.

“ Kek, sudah berapa tahun mereka tidak mengunjungi kita?”

“ Kakek lupa, tapi seingat kakek sudah lama sekali mereka tidak pulang.” Kata kakek tak kalah pilu.

Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Mereka terbawa suasana pilu yang menyayat hati. Nyanyian jangkrik yang menjadi hiburan satu-satunya bagi mereka bagaikan musikalisasi akan kegelisahan yang mendera mereka. Malam yang semakin larut itu menenggelamkan mereka ke dalam lautan kesedihan.

Akhirnya untuk kesekian kalinya mereka melewati malam ini dengan harapan kosong yang semakin hari semakin lemah. Sama seperti malam-malam sebelumnya selama bertahun-tahun, senyum kebahagiaan sudah di renggut dari wajah mereka. Mereka menantikan keluarga mereka untuk berkumpul kembali, seperti saat foto itu dibuat. Tapi kapan, kapan mereka bisa berkumpul lagi. Mereka memang bukan Tuhan yang mengatur hidup dan mati, namun di usia mereka yang sudah senja ini, mereka harus berlomba dengan ajal. Saat kematian telah mengintai mereka, impian mereka belum juga terkalbukan.

Kini malam berganti pagi, tidak ada semangat. Seperti biasa, suami-isteri itu duduk di kursi bambu yang menghadap ke pintu yang langsung memandang ke ujung jalan. Mereka kini hidup dalam sisa usia dan tenaga mereka yang hampir meredup. Uang pensiun yang tidak seberapa, sedikit demi sedikit mereka cukup-cukupkan untuk menyambung hidup. Tidak ada harapan anak-anak mereka untuk mengirimkan beberapa lembar uang untuk membiayai hidup kedua orang tua mereka yang sudah uzur itu.

“ Kek, kau potonglah rumput yang tumbuh di halaman itu. Jika mereka nanti pulang tidak ada lagi rumput yang tumbuh di situ. Nenek mau memasak makanan kesukaan mereka.”

“ Mereka tidak akan pulang nek, tidak perlulah kau memasak makanan kesukaan mereka.”

“ batin ku mengatakan, hari ini mereka akan datang melihat kita.”

“ Yakinlah nek, mereka sudah benar-benar melupakan kita. Entah apa yang mereka pikirkan sekarang.” Kata kakek yang sudah mulai kehabisan kesabarannya.

“ Jangan kau bicara lagi, aku adalah ibu mereka. Batinku mengatakan mereka akan pulang. Batin seorang ibu selalu benar, kamu harus percaya kek.” Katanya ngotot.

Kakek sedih melihat tingkah istrinya yang semakin pikun itu. Tapi dia tidak ingin menghancurkan harapan tuanya. Dia melakukan apa yang diminta nenek dengan segala gejolak yang hampir membelah dadanya yang sudah kering kerontang. Dalam hati dia ingin memberitahukan isterinya, namun di lain sisi dia tidak kuasa jika nanti isterinya begitu sedih hingga jatuh sakit.

Dia mengambil cangkul kecil dan arit karatan dari dapur yang hanya berupa bilik kecil yang kotor dan berantakan. Lalu dia melangkahkan kaki tuanya menuju halaman rumah yang sudah ditumbuhi rumput liar itu. Rumah gubuk mereka itu tampak seperti rumah tua yang sudah lama ditinggal pergi pemiliknya dengan pemandangan yang seperti itu.

“ Kotor sekali halaman ini.” Kata kakek sambil berkacak pinggang. Dia mulai membersihkan rumput liar yang tumbuh tinggi hampir setinggi pinggangnya. Otot-ototnya yang kini sudah tua, bercerita tentang kehidupan keras yang dihantamnya semasa muda. Wajahnya yang hitam legam bekas terbakar sinar matahari kini basah oleh keringatnya sendiri.

Diayunkannya perlahan arit tumpul karatan itu. Sisa-sisa tenaganya yang lemah itu sudah tidak mampu lagi sebenarnya melakukan perkerjaan berat itu, tapi apalah daya lelaki tua dan isterinya itu. Mereka tidak mempunyai uang lebih untuk membayar orang membantu mereka memotong rumput liar yang sangat mengganggu itu. Dulu, kedua anak laki-lakinya setiap akhir pekan pasti membersihkannya, tapi itu dulu sekali, entah kapan otak tuanya sudah tidak cukup mampu untuk mengingat lagi.

Pekerjaannya belum juga usai, namun malam sudah terlanjur turun. Matanya yang sudah rabut tidak cukup mampu untuk melihat dalam gelap. Dia memandang ke dalam rumah. Isterinya sudah duduk di atas singgasana bambu tempatnya duduk menatikan kedatangan para buah hatinya. Pandangannya kosong ke depan, air matanya semakin deras menetes. Kakek menghela nafas panjang, terkadang saat seperti ini dia merindukan nestapa yang tak kunjung datang menjemputnya. Apalah arti hidup ini saat kita merasa telah dicampakkan.

Kakek meninggalkan cangkul dan aritnya di halaman, dia menapaki tangga kayu rumahnya. Dengan susah payah dia sampai di atas dan duduk di samping isterinya. Dia membelai rambutnya yang sudah ubanan. Mereka sesaat terdiam membagi kegelisahan mereka masing-masing.

“ Sudahlah nek, kau tutuplah pintu itu. Mereka takkan datang lagi. Biarlah sisa hidup kita ini, kita jalani berdua saja.”

Nenek tetap terdiam, pandangannya masih kosong. Dia hanya diam tak bergerak sedikitpun. Kakek memandanginya dengan seksama, dia memanggil-manggil nenek, namun tidak ada jawaban. Nenek pergi dalam penantiannya, meninggalkan semua harapannya bersama kakek yang selalu menemaninya di gubuk reotnya. Entah dia pergi di dalam damai, namun gambaran wajahnya yang sudah kaku menyimpan impian terakhirnya yang tidak dapat diraihya.

Kakek menyadari, nenek sudah mendahuluinya. Entah apa yang harus dia perbuat lagi. Barusan mereka masih berdua, kini dia tinggal sendiri dalam penantiannya. Dia memeluk tubuh isterinya yang sudah kaku. Tidak tidak kuasa menerima apa yang sudah terjadi.

“ Nenek, apakah gulai kesukaan anak-anak sudah matang?” Kata kakek. Nenek hanya diam, tak ada jawaban. Kakek menangis, kini dia sendiri. “ Nenek, apa yang datang ke pikiranmu. Dulu kita berjanji untuk sehidup semati, kenapa kamu mendahului ku nek?” Nenek tetap diam. “ Sekarang kau sudah menyelesaikan satu dari semua penantianmu, tapi aku belum meraih satupun. Apakah kau damai dalam tidur mu, sayang?” Kata kakek. “ Mau kan kamu mengajakku pergi bersamamu?” Kakek terus berbicara dengan tubuh nenek yang sudah tidak bernyawa itu. sepanjang malam dia terus berbicara dan berbicara. Mereka berbua duduk menghadap pintu yang selalu terbuka, memandang ke ujung jalan.

Ketika pagi tiba, kakek sudah terdiam. Kini mereka berdua sudah sama-sama diam. Tidak ada lagi yang berbicara, mereka sudah menyelesaikan penantian akhir mereka. Keduanya pergi dalam diamnya, dalam penantianya dan dalam kerinduannya. Mereke pergi sambil memandangi ujung jalan dari pintu yang selalu terbukan.

Kini pintu itu tetap terbuka, terbuka menghadap ke ujung jalan. Di atas singgasana bambu itulah kedua suami-isteri itu mengenapkan janjinya dan menyelesaikan penantian akhirnya. Mungkin impian tinggallah impian, mereka lebih tenang di dunianya yang bari. Dan kini pintu itu tetap terbuka, hingga suara itu dating memecah kesunyian yang sudah sangat lama mengisi ruang di dalam rumah gubuk itu.

“ Bapak, ibu, kami pulang.” Seorang laki-laki parlente menaiki tangga rumah gubuk itu. Mereka bertiga pulang bersama-sama untuk mengunjungi orang tua mereka yang kini sudah tidak dapat melihat mereka lagi. Mereka yang berlomba dengan takdir kalah dalam masalah waktu. Andaikan mereka dating lebih awah, mungkin mereka masih bisa mengisi kebahagiaan di ruangan kecil yang pengap itu.

Mereka pulang setelah mengistirahatkan kedua orang tua mereka. Mereka tidak pernah lagi dating mengunjungi rumah gubuk tua itu. hingga kini, pintu itu tetap terbuka menghadap ke ujung jalan. Tidak ada yang menanti di atas singgasana bamboo itu, kini tinggal pintu yang selalu terbuka menghadap ke ujung jalan dengan segala kisah penantian yang sudah usai.

3 Komentar to “PINTU YANG SELALU TERBUKA”

  1. tulisan anda membuat saya ingat dengan karya – karya masa lawas, seperti a.a navis dalam novel robohnya surau kami.. salam kenal..
    mirahmaniezt.wordpress.com

  2. thax yaa gus….

    q da copy….crta u seru2 abizzz
    jadi ingat wktu qt skul dlu….

    mkasi jga yaa,bwt pujian u tpi tlu b’lbihan
    q salut am U…da sbuk kul tpi msi smpat bwt crta…

    kbngin truzz ya bkat u…

    mizz u…

    GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: