ANAK TARUTUNG MENGINJAK BOROBUDUR

oleh lamasi

asBerbicara tentang Borobudur kita teringat dengan sebuah candi megah kebanggaan bangsa Indonesia yang terdapat di kabupaten Magelang Jawa Tengah. Candi megah yang sempat dinobatkan sebagai salah satu 7 dari keajaiban dunia ini memang pantas untuk diacungi jempol. Bangunan tua yang bernilai seni tinggi baik arsitektur dan ukirannya ini sejak tahun 1991 telah tercatat sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage) Nomor 592 oleh UNESCO. Dari 10 kriteria warisan Budaya Dunia, Borobudur memenuhi 3 dari criteria tersebut, diantaranya:

  1. Mewakili sebuah mahakarya kejeniusan kreatif manusia.
  2. Memperlihatkan pentingnya pertukaran nilai-nilai kemanusiaan dalam suatu rentang waktu atau dalam suatu kawasan budaya di dunia terhadap pengembangan arsitektur atau teknologi, karya monumental, tata kota atau rancangan landcape.
  3. Secara langsung atau nyata terkait dengan peristiwa-peristiwa atau tradisi yang masih hidup, dengan gagasan atau keyakinan dengan karya seni dan sastra yang memiliki nilai-nilai universal signivikan.

Candi Borobudur sendiri ditemukan pertama kali oleh Sir Thomas Stamford Raffles tahun 1812 dengan kondisi sangat parah dan tertutup semak belukar. Usaha pembersihan dilanjutkan oleh Cornelius pada tahun 1814 dengan mengerahkan 200 orang selama 2 bulan. Tahun 1834, Residen Kedu memerintahkan untuk membersihkan semua. Pada tahun 1907-1911 Theodore van erp melakukan restorasi terhadap Candi Borobudur. Pada tahun 1973-1983, pemerintah Indonesia dibantu oleh UNESCO melakukan restorasi besar-besaran terhadap candi Borobudur dapat bertahan lebih dari 1000 tahun.

Siapapun akan kagum ketika kita berdiri di hadapan mahakarya terbesar umat manusia ini. Dengan berjalan mengelilingi candi masuk melalui pintu Timur dan berkeliling searah dengan arah jarum jam dengan menempatkan candi di sisi bahu kanan kita sebanyak tiga kali. Candi yang terdiri dari 10 tingkatan ini melambangkan kehidupan umat Budha untuk mencapai kesempurnaan. Denan berbagai lukisan kehidupan manusia di dunia ini yang tertuang dalam setiap ukiran relief sepanjang dinding candi.

Itulah sedikit tentang profil candi Borobudur yang saya dapatkan dari perjalanan saya ke candi Borobudur ini. Tetapi cerita saya baru dimulai, tentang anak Silindung yang menginjak Candi Borobudur. Dalam kurun waktu satu setengah tahun ini, sudah dua kali saya mengunjungi monument megah ini. Mungkin ada sedikit perasaan membandingkan antara Candi Borobudur dengan Salib Kasih. Memang jika kita bandingkan sampai tahun 3000 SSM (Setelah Sesudah Masehi) akan memunculkan pendapat yang berbeda-beda, dan saya memang tidak ingin membandingkan itu. Karena bagi saya Salib Kasih itu is the best…

Kekaguman pertama saya sesungguhnya ketika sampai di tangga pertama menuju Candi Borobudur ini bukan tentang cerita kemegahannya. Namun saya mencoba mengukur jarak yang telah aku tempuh hingga sampai ke tempat ini. Secara nominal tidak dapat saya gambarkan berapa ribu kilometer langkah saya hingga kini sudah berhasil menginjak bangunan monumental ini. Memang sedikit norak, hari gini masih kagum denan yang gituan??? Mungkin itu pendapat sebagian orang, tapi saya tidak terlalu memperdulikannya.

Siapakah aku ini yang berkesempatan untuk menyaksikan dan berangan-angan tentang apa yang dilakukan oleh Wangsa Sanjaya ratusan tahun lalu di tempat ini. Hingga kini semua orang masih mengagumi hasil karyanya tanpa bisa melihat bagaimana proses terbentuk dan siapa-siapa saja yang ada pada masa itu. Siang itu aku langsung menelpon temanku yang ada di Tarutung, kebetulan dia ingin sekali melihat candi Borobudur ini.

“ Lae, nga hu dege be Borobudur i! On do hape candi Borobudur, dang dohot ho naek tu ginjang?”

“ Serius ho? Tabo ho lae, hape iba mate bolong ma di Tarutung na uli on. Pasahat tabe ku tu Budha na i. Gabe ho parjolo puang mandege tempat na paling hu impihon i.”

Hari itu ku ceritakan semua tentang Borobudur, dan aku menyebutkan jumlah patung Budha yang ada di situ. Ngakunya hitung sendiri padahal nanya ke guide yang ada di sana. Tapi bodoh amat, yang penting nominalnya dia tahu. Di kawasan candi Borobudur ini, memang layak kita acungin jempol. Susunan tamannya yang rapi dan tak kalah bersihnya, selain itu juga pengaturan system jalan searah memasuki lokasi menjadikan pengunjung tidak kerepotan. Penempatan kios souvenir yang berada di pintu keluar membuat kita tidak repot keliling-keliling kesana kemari untuk berburu oleh-oleh. Saya sendiri tidak sampai satu jam untuk memilih souvenir yang akan aku beli (ya iyalah, wong ga beli apa-apa. Belinya Cuma gelang tiga sama gantungan kunci, Cuma habis 20 ribu).

Keramah-tamahan adalah salah satu dari Sapta Pesona selain kebersihan, keamanan dan lain sebagainya. Keramah-tamahan pedagang di lokasi ini juga tak kalah bagusnya. Tidak ada pedagang asongan yang memaksa seperti di tempat wisata lainnya. Hal ini sebenarnya membuat candi Borobudur menjadi kunjungan wisata dunia.

Seperti yang kita ketahui bersama dan juga sudah saya sebutkan bahwa candi ini terletak di Pulau Jawa. Memang tidak bisa kita pungkiri, bahwa orang batak itu sama seperti filosofis cicak, selalu ada di mana-mana. Kenapa saya katakan demikian?? Ini bukan cerita bohongan loh, tapi benar-benar ada. Di pintu keluar selain kios pedagang souvenir ada juga beberapa pengamen dan pengemis, yang membuat saya kagum bahwa lagu Situmorang ternyata berkumandang di Borobudur. Mungkin saya tidak tahu persis apakah ke sepuluh pria pengamen itu benar-benar orang batak atau sebagian dari mereka, saya tidak pernah tahu. Masalahnya saya tidak pernah bertanya. Tapi dua kali saya berkunjung ke candi Borobudur mereka selalu membawakan beberapa lagu batak, dan keseringan lagu Situmorang.

Aku langsung teringat dengan daftar pengunjung yang saya baca di museum bahari yang masih di dalam kawasan Borobudur terdapat keluarga Tobing asal dari Sibolga. Ternyata tidak susah mencari orang batak di dunia yang luas ini. Jika aku mengikuti saran dari temanku yang gila tentang cara mudah mencari orang batak, mungkin aku akan menemukan orang batak lain di tempat ini.

Terkadang aku tertawa sendiri tentang pengalaman bertemu dengan beberapa halak hita di pangarantoan ini. (Beberapa akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya yang berjudul PAJUMPANG DOHOT HALAK HITA DI PANGARANTOAN).

Mungkin itulah sedikit cerita perjalanan saya mengunjungi tempat yang diimpikan salah seorang temanku yang hingga kini belum terpenuhi. Kadang aku berfikir seandainya ini candi Borobudur dibangun di tano Batak oleh si Raja Batak apa yang akan terjadi di saat ini.

3 Komentar to “ANAK TARUTUNG MENGINJAK BOROBUDUR”

  1. Mo tanya dong??
    berapa sih jumlah anak tangga yg ada di candi Borobudur?

    coz: w itung bareng sama temen w beda jumlah y??

    w itung ada 89
    klo temen w 87

    kira2 yg mn y yg bener???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: