IDEALISME VS AKTIVIS VS AKADEMIK

oleh lamasi

Memasuki era Reformasi, kebebasan terbuka seperti layaknya sebuah pintu gerbang yang tidak pernah tertutup. Gerakan mahasiswa yang mempelopori jatuhnya orde baru muncul menjadi sosok pahlawan super yang memberikan stimulus kepada gerakan mahasiswa di kampus-kampus. Adanya reputasi kepahlawanan yang mengawali sejarah panjang perjuangan pergerakan mahasiswa menyemaikan tumbuh kembangnya aktivis-aktivis kampus.

Hampir setiap hari kita melihat mahasiswa turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi. Mahasiswa muncul sebagai alarm bagi setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Adalah suatu hal yang baik keikut sertaan para aktivis kampus ini dalam mengawal dan mengawasi perjalanan demokrasi pasca orde baru. Namun yang terkadang membuat orang kehilangan kekaguman terhadap setiap aksi yang dilakukan oleh para aktivis kampus ini adalah sering terjadinya demo anarkhi yang berujung pada kerusuhan. Selain itu juga, setiap pemerintah mengambil kebijakan baru, mahasiswa selalu bersuara antara pro dan kontra, namun keseringan kontra. Seakan-akan apa yang dilakukan oleh pemerintah tidak pernah benar.

Perkembangan dan keberadaan lembaga kemahasiswaan memang dilindungi oleh peraturan yang dikeluarkan oleh Dikti atau departemen terkait. Diantaranya SK dari Menteri Pendidikan tentang Lembaga kemahasiswaan dan SK Menteri Pendidikan tentang pedomana organisasi Mahasiswa. Disamping itu dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, lembaga kemasiswaan dibenarkan. Apalagi dengan adanya kebebasan berkumpul, berserikat dan berpendapat sebagaimana yang terkadung dalam UUD 1945 pasal 28.
Namun kenyataannya saat ini, dengan adanya kebebasan itu maka muncullah aktivis-aktivis kampus yang secara nurani dipertanyakan. Jika pada saat perjuangan mahasiswa di tahun 1997, panji-panji BEM dari universitas-universitas yang memberikan rasa kebanggaan bagi mereka yang bernaung di bawah bayangan panji-panji tersebut berbeda dengan sekarang. Kekaguman itu berubah menjadi kebosanan dan reformasi yang kebablasan. Sehingga pandangan masyarakat yang telah menjustice pergerakan mahasiswa sebagai biang kerok kerusuhan tidak dapat dihindari lagi.

Sebuah kenyataan yang tak terbantahkan bahwa aktivis-aktivis yang mengaku dirinya memiliki idealisme ternyata tidak dapat membuktikan diri dan pengabdiannya sebagaimana idealisme perjuangan pergerakan mahasiswa yang sesungguhnya. Banyak aktivis mahasiswa yang berbenturan dengan masalah akademik, bukanlah sebuah kebohongan jika banyak aktivis yang masuk dalam barisan orang-orang yang terancam DO karena nilai akademiknya yang mengkhawatirkan. Ini bukan intimidasi atau permainan dari dosen semata. Tapi memang itulah kenyataannya. Idealisme yang tidak terarah, sehingga mengakibatkan pergerakan dan akademik tidak sejalan.

Idealisme mahasiswa sekarang entah apa arahnya. Bahkan bagi saya omong kosong dengan idealisme mereka. Bayangkan, mahasiswa yang dulunya berteriak idealisme ini dan itu, namun ketika dia keluar atau menyelesaikan pendidikan di almamaternya dia sibuk mencari link illegal untuk memperoleh pekerjaan. Membayar sejumlah uang untuk menjadi PNS, atau bahkan mencari kenalan yang bisa membantunya masuk pekerjaan dari jalur tikus yang tidak seharusnya dilewati. Apakah itu yang disebut dengan idealisme. Sementara masa muda mereka dihabiskan teriak idealisme sementara masa tua mereka mempermalukan diri sendiri dengan omong kosong yang dibuat sendiri.
Alangkah indahnya jika para aktivis kampus tidak hanya macan pada saat demonstrasi tapi juga menjadi macan dalam prestasi akademik. Menjadi orator yang baik saat dibutuhkan bukan menjadi provokator saat aksi damai. Alangkah terhormatnya almamater yang disandangnya saat para aktivis kampus menjadi lulusan-lulusan terbaik yang memperoleh gelar akademik yang diimpikannya.

Saya aktif dalam lembaga kemahasiswaan di dalam maupun di luar kampus tapi tidak berani menyebut diriku sendiri sebagai aktivis, karena saya belum pantas menyandang gelar kehormatan itu. Selainnya karena saya bukan orang yang pandai dan pintar, saya belum memberikan arti bagi alamater dan bangsa ini. Aktivis bagi saya sama seperti gelar kebangsawanan yang tidak sembarangan disandang oleh orang yang tidak pantas dan tidak berhak untuk itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: