HANYA SEBUAH CATATAN KECIL

oleh lamasi

051709054950-00Waktu akan menyeberang melewati hari ini untuk mencapai hari esok. Avanza silver yang membawaku, menderu kencang di atas jalanan yang membentang lurus ke selatan. Bunyi yang ditimbulkan karena gesekan roda mobil dengan kerikil jalanan, sayup-sayup memecah kesunyian malam. Jam hampir menunjukkan pukul 00.00 wib, itu tandanya hari ini akan segera usai. Diantara kesunyian jalanan, sesekali ada kendaraan lain yang mendahului dan juga saling berpapasan.

Pemberhentian pertama yaitu Pantai Baron. Lokasinya selatan Daerah Istimewah Yogyakarta, tepatnya di kabupaten Gunung Kidul. Ada setumpuk bayangan dalam benakku, gambaran tentang pantai yang sebelumnya pernah aku datangi, datang silih berganti di otakku. Seakan-akan seseorang sedang memasang slide show jauh di dalam sana. Mungkin bukanlah sebuah perjalanan yang cukup berat, walaupun memakan waktu yang lumayan panjang. Aku hanya bisa menikmati perjalanan yang mungkin tidak begitu indah.

Dua jam kemudian, kami sudah memasuki wilayah Yogyakarta. Aku hanya bias menikmati keindahan malam di jalan Malioboro Yogyakarta yang terkenal itu. Mungkin diantara jalan-jalan lainnya, jalan Malioboro dapat di katakan jalan yang tidak pernah tidur. Lalu lalang kehidupan silih berganti. Anak-anak muda turun ke jalan bercengkrama dengan teman-teman atau kekasih mereka. Kilauan warna-warni lampu jalan, menambah keanggunan kota ini. Mobil kami melaju dengan elegan di eloknya Yogyakarta.

Terlepas dari keindahan jalan Maliboro, kami terus meluncur di atas jalanan panjang yang membentang di hadapan kami. Aku tidak tahu persis arah mana yang kami tuju. Saat itu aku tidak dapat membaca arah, apakah utara, selatan, barat atau timur, yang aku tahu kami sedang menuju pantai Baron di selatan Yogyakarta. Ternyata perjalanan menuju ke sana hampir sama dengan perjalanan Semarang Bantul dua jam berlalu tanpa terasa.

Tepat pukul 03.52 wib, mobil berhenti di sebuah pelataran parkir di sebuah mesjid. Pagi masih begitu gelap, aku hanya bisa memandang sejauh lima meter, itupun jika diterangi oleh cahaya lampu. Ternyata kami sudah sampai. Pantai hanya berjarak lima puluh meter dari parkiran. Sayup-sayup deburan ombak memecah keheningan pagi, tapi aku tidak tahu ke mana arahnya. Kata orang-orang, jika kita naik ke atas tebing, kita dapat menikmati matahari terbit dari atas menara. Aku ingin sekali menyambut matahari terbit di hari Minggu ini. Aku mengikuti teman-teman menerobos kegelapan. Bermodalkan cahaya redup dari telepon genggam masing-masing, kami menyusuri kegelapan. Tiba-tiba kaki ku dapat merasakan pasir pantai yang lembut, aroma laut pun mulai tercium. Aku menaiki anak tangga kayu yang sengaja di buat untuk naik ke atas tebing.

Dari atas tebing yang curam ini aku menantikan mentari pagi yang indah. Walaupun sedikit mendung, mentari tetap bersinar dengan ceria di Minggu pagi yang indah ini. Menatap ke arah laut, tebing yang tinggi ini membuatku dapat memandang jauh ke semudera hindia. Jauh di bawah sana, ombak bergulung-gulung menghempas karang, kengerian langsung terbayang jika seandainya terjatuh dari atas sini.

Nelayan Gunung KidulKini mentari telah tergantung di angkasa untuk menunaikan tugasnya. Aku kembali merayap di sela-sela karang menuju ke pantai. Pantai masih sangat sepi. Angin laut bertiup membawa perahu nelayan pulang ke pantai. Jauh di batas cakrawala, tiang-tiang layar muncul satu persatu. Para wanita berdiri di pantai menanti para lelaki pulang melaut, membawa hasil tangkapan semalam suntuk. Ombak bergulung kecil, namun mampu memberikan sensasi yang luar biasa. Aku menyusuri bibir pantai yang hanya sepanjang seratus meter. Aku tidak tahu mungkin saja pantai ini sebuah teluk, melihat dari posisi lautnya yang menjorok ke darat. Air laut di sini tidak begitu asin, airnya lebih payau, karena disisi barat pantai ini merupakan pertemuan antara air asin dan air tawar. Setelah itu di kedua sisi pantai berdiri dinding tebing yang terjal dan berbahaya, dimana tadi aku berdiri menikmati matahari terbit.

Aku berdiri menantang angin laut yang meniup rambutku. Aku berdiri kaku di atas pasir yang basah, sementara lidahku kelu tak dapat berucap sepatah kata pun. Tak sedikitpun aku bergeming untuk menjauh dari lukisan keindahan ini. Ombak-ombak kecil membelai telapak kakiku dengan lembut. Anak-anak kepiting berlari menuju lubang induknya. Sementara hari semakin terang, pantai mulai dipenuhi para pengunjung. Nelayan dan penikmat alam bersatu menghiasi suasana pantai. Hatiku miris memandang sekitar, pantai yang indah ini ternyata begitu kotor. Beberapa sampah plastik dan bekas makanan bertebaran di sepanjang bibir pantai. Beginilah cara orang-orang kita untuk menghormati alam.

Puluhan orang kini menuhi pantai, walau ada larangan untuk tidak berenang di laut, namun para pengunjung tetap nekat untuk berlari menyongsong ombak yang bergulung-gulung. Mungkin peraturan bagi mereka bukan suatu hal yang mesti ditaati. Anak-anak bermain pasir di bibir pantai, sebagian lagi bermain bola air di tengah-tengah hempasan ombak kecil. Beberapa sejoli duduk menggelar tikar di atas pasir kusam yang tidak begitu putih. Duduk berdua sambil tertawa dalam kebahagian diantara sejuknya angin laut. Mereka begitu dekat, hangat dan romantis. Tiba-tiba aku merasa sendirian di pantai ini. Aku membayangkan, seandainya aku dapat merasakan hal serupa dengan apa yang mereka rasakan.

Jejak-jejak yang kutinggalkan di atas pasir yang basah, membentuk lobang-lobang kecil berbentuk kaki. Aku memandangi jejak kaki yang membekas di atas pasir basah itu. Aku terbayang sudah berapa jejak serupa yang aku tinggalkan hingga aku sampai di tempat ini. Ternyata aku telah berjalan begitu jauh meninggalkan rumah, pergi menemui masa depanku yang juga datang menyongsongku.

Sudah cukup bagiku untuk mengagumi mahakarya indah ini. Aku berbaring menatap langit hari minggu yang cukup cerah. Mega-mega tipis berarak ke selatan membawa berita dari utara. Aku memicingkan mataku memandang birunya langit. Mencoba untuk menyelami jutaan misteri yang terdapat di jagat raya ini. Suasana ini menghanyutkan ku. Aku teringat kampung halaman ku nun jauh di sana. Mengenang masa-masa ku yang telah berlalu, mengenang sanak saudara dan sahabat-sahabat yang dulu pernah mengisi hidupku. Tiba-tiba saja aku teringat dengannya. Dia yang selama tiga tahun ini, aku coba untuk melupakannya. Dan ternyata aku tidak kuasa, bahkan semakin aku mencoba semakin aku mengingatnya.

Gerangan apa yang sedang dilakukannya, mungkinkah jika pagi ini dia memikirkan ku seperti aku memikirkannya. Ku tuliskan namanya di atas pasir ini, sebagai pertanda aku akan selalu membawa kenangan tentang di setiap tempat yang aku lalui. Di atas pasir basah dengan disaksikan alam kuteriakkan namanya, agar para penguasa laut selatan mendengarnya. Ku ukir namanya di atas pasir, agar pasir-pasir ini dapat membisikkan namanya kepada para pengembara yang datang silih berganti. Hatiku berderu kencang, meningkahi deru ombak yang menghempas karang. Nafasku naik turun tak beraturan. Aku mencoba untuk menahan gejolak dalam dadaku. Untuk beberapa saat aku terdiam, lidah seakan terikat mistis para penguasa lautan. Hingga akhirnya aku berhasil menguasai emosiku.

Aku pun bangkit dan beranjak pergi meninggalkan pantai ini. Meninggalkan pasir berukirkan namanya051709133734-00. Meninggalkan jejak-jejak langkahku yang mungkin akan terhapus oleh jejak-jejak lain atau terhapus oleh sapuan ombak. Namun aku tidak peduli, aku bahagia walaupun harus menyimpan gejolak di dalam dada. Aku telah berjanji, akan ku tuliskan namanya di setiap jengkal tanah yang aku lalui, dan di pantai yang indah ini aku melakukannya.

Akhirnya pukul 11.00 wib, aku meninggalkan pantai yang indah ini. Meluncur diantara jalan berliku menuju kota Klaten. Menyusuri pedesaan Gunung Kidul yang masih permai. Hari yang cerah, memberikan aroma yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Aku mencoba menuliskannya dalam catatan kecil. Hari itu, Minggu 17 Mei 2009, ku tuliskan namanya di atas pasir putih Pantai Baron yang indah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: