BINTANG-BINTANG DI TARUTUNG

oleh lamasi

bintang_timur_3

Suasana menjadi sangat dingin saat semua orang terlelap dalam tidur mereka yang damai. Kini tinggal lah aku sendiri yang masih menghangatkan tubuhku di dekat sisa-sisa bara api yang kembali aku nyalakan. Bukan hal yang janggal kalau malam ini aku hampir saja membeku diterpa cuaca dingin pegunungan di lembah Silindung ini. Lidah-lidah api yang perlahan melahap habis sisa-sisa kayu bakar, meninggalkan sebuah siluet yang tampak menari-nari begitu indah. Sementara dari arah tenda, tarikan-tarikan nafas teratur membawa setiap orang pada mimpi yang indah.

Aku termenung sambil memandangi bara-bara api yang memberiku kehangatan. Di atas tikar kecil yang aku gelar di dekat api unggun, ku rebahkan tubuhku yang sudah mulai hangat. Langit begitu indah dengan taburan bintang-bintang yang membentuk beranekaragam formasi. Bulan sabit yang tampak sempurna memberikan sedikit cahaya di atas bumi. Aku dapat melihat tarian kunang-kunang di atas dedaunan. Di kejauhan lambaian daun tusam bergoyang mengikuti embusan angin yang berhembus dari puncak gunung. Lembah yang terlelap itu kini sunyi penuh dengan jutaan misteri.

Ada lima tenda yang berdiri di atas tanah datar ini. Semuanya penuh sesak dengan manusia-manusia yang kelelahan setelah berjalan seharian menerobos hutan. Malam ini hanya aku yang belum dapat memejamkan mataku. Dalam kesenyapan ini, aku mulai mendengar bukit-bukit berbisik di kejauhan. Sesekali erangan hewan hutan terdengar membahana ke seluruh pelosok lembah. Langit masih penuh dengan bintang, sesekali aku memandang ke atas, saat beruntung aku dapat melihat bintang jatuh di langit utara. Rasanya malam ini begitu damai.

Adakah lembah yang terlelap ini akan menguak semua misterinya untuk ku mala mini. Aku hanya bisa duduk dan terkadang berbaring. Di sekitarku hanya ada aku dan lidah-lidah api yang menari-nari di atas kayu bakar. Alam bernyanyi dan desiran anak sungai mengiringi. Hatiku beku dan lidahku tak dapat berkata-kata. Malam sudah begitu jauh. Aku memikirkan cerita tentangku, semua tentang cinta dan impianku. Aku terbayang dengan jalan panjang yang membentang di hadapanku. Ada sedikit kegelisahan yang tiba-tiba menyelinap dalam hati kecilku, dan saat itu aku hampir saja terdiam dan pasrah pada nasib.

Sambil menghempaskan tubuhku di atas tanah yang ku lapisi tikar kecil, pikiranku melayang ke suatu ruang yang sangat jauh. Mungkin berada dalam dimensi kehidupan yang lain. Melayang-layang dalam dimensi ruang dan terombang-ambing dalam gelombang waktu. Rasanya lidah ku kelu saat memandang langit-langit yang berhiaskan glow bintang-bintang. Terbayang sebuah dataran tinggi hijau yang terhampar di kaki bukit barisan. Sebuah panorama yang biasa kita lihat di dalam lukisan.

Gunung yang menjulang tinggi dengan lembah yang hijau dengan tanah pertanian terhampar luas tanpa batas. Hutan-hutan begitu indah dengan aliran air yang masih sangat alami. Aku melayang begitu jauh ke sebuah dimensi ruang yang sangat jauh. Sebuah masa lalu yang sangat aku rindukan. Kampong halamanku yang indah. Tanah kelahiranku, tempat para arwah nenek moyangku bersemayang. Tempat tulang-belulang para leluhurku dikuburkan. Dimana jiwa-jiwa mereka menjadi tenang, beristirahat di bawah kerindangan pepohonan hutan yang berdiri bagai raksasa menakutkan. Tarian ilalang menjadi hiburan mereka, dan anak sungai memuaskan dahaga mereka.
Sebuah dusun kecil yang hanya ditempati puluhan kepala keluarga yang memilih untuk mengisolasi diri mereka dari sebuah perubahan. Perkampungan tradisional yang bersandar pada kaki bukit barisan dengan berpagarkan bukit dan hutan. Lahan pertanian yang tak terbatas siap untuk dituai. Padi-padi bunting menunduk seakan-akan bumi menarik mereka dan membenamkan ke dalam tanah. Tanah yang subur dengan aroma sorga yang mempesona.

Rumah-rumah berdinding kayu lapuk dan beratapkan rumbia berdiri dalam kesederhanaannya. Wajah-wajah kerja, keras lalu lalang di jalan desa yang hanya selebar jalan setapak. Ayam-ayam berlarian di kolong rumah dan beberapa ekor kerbau merumput di tanah lapang di luar desa. Di sanalah aku dilahirkan, di sebuah dipan bambu di balik dinding bilik yang hampir roboh tertiup angin. Dan disanalah aku dibesarkan bersama segala keindahan desa tertinggal itu. Setiap hari aku naik turun di tangga rumah yang sudut kemiringannya hamper Sembilan puluh derajat. Terkadang berdiri di ambang pintu memandang jauh ke balik bukit yang memagari dusunku. Bermimpi dan membayangkan sebuah kehidupan lain yang berada jauh berkilo-kilo meter di balik bukit.

Kami diajarkan tentang kerasnya hidup, tentang bertahan hidup. Harapan, impian dan berusahan begitulah kami dibesarkan. Orang akan melihat masyarakat kami sebagai suku primitive yang terisolir. Tanpa teknologi dan kemajuan. Tapi alam mengajarkan kami banyak hal, dari astronomi, geografi hingga sampai kepada genetika dan tentunya dengan olah pikir tradisional kami. Setiap orang yang pernah terlahir di desa ini mempunyai impian yang sama. Impian untuk membuka pintu yang selama ini tertutup, pintu yang membuat kami terkurung dalam komunitas kami yang terpinggirkan. Setiap orang akan memandang ke utara, memandang bukit tertinggi yang menjadi sekat antara kehidupan kami dengan kehidupan lain yang ada di baliknya.

Namun hatiku miris memandangi nasib dusunku. Dari masa ke masa semuanya tidak pernah berubah. Sayangnya mereka yang telah menggapai bintangnya enggan untuk kembali ke dusun terpinggirkan ini. Perantau-perantau malang itu hanya ingat tanah leluhur mereka saat kabut kematian telah menutupi kedua matanya. Pembangunan tetap tidak pernah menjamah peradaban kami yang tetap setiap pada ketertinggalan. Walau kenyataan putera dusun kami telah menemukan bintangnya, mereka lebih senang menimbun harta di negeri orang daripada membuka jalan menuju dusunnya. Mereka lebih senang membangun monument-monumen kematian yang tampak megah daripada memperbaiki rumah-rumah leluhur mereka dilahirkan yang hampir roboh diterjang usia.

Apakah ini yang disebut cirri khas suku bangsa ku? Aku tidak pernah mengerti, mereka lebih menyayangi yang sudah tiada daripada yang masih bernafas. Kita memang harus menghormati mereka yang telah meninggal namun kita harus senantiasa menghargai mereka yang masih memiliki nafas kehidupan.

***

Sekali lagi aku melayang-layang pada dimensi hampa yang semuanya sangat gelap. Diantara kekalutan yang melanda diriku aku aku mencoba menggapai-gapai udara. Namun aku tidak dapat menggapai apapun, semuanya semu dan tampak begitu hampa. Lalu untuk kesekian kalinya tubuhku terhempas di tanah yang keras dan sedikit lembab.

Aku memandan sekitarku yang tampak gelap. Baying-bayang hutan tampak begitu jelas. Aku mencoba untuk menguasai akalku sambil mengatur nafasku yang memburu bagaikan debur ombak memecah karang di samudera. Mataku yang nanar kini dapat melihat dengan jelas di sekitarku, onggokan kayu gosong, kini tinggal sisa-sisa bara dengan asap tipis yang mengepul ke angkasa. Ternyata aku bermimpi dalam tidurku. Aku memandangi sekelilingku untuk kesekian kalinya, tarikan-tarikan nafas masih terdengar teratur di dalam tenda.

Aku mulai menyalakan api yang baru saja padam saat aku tertidur, untuk mengusir hawa dingin yang tak tertahankan. Sambil mengingat-ingat mimpi indah yang menemani tidurku malam ini, aku bersenandung di dalam hati kecilku. Wajahku ku angkat tinggi-tinggi mengamati langit yang bertabur bintang-gemintang. Ku ingin menunggu pagi sambil menengadah ke atas mengawasi waktu berjalan. Bulan sabit yang masih bersinar, di kedua sudutnya berkelap-kelip dua buah bintang, sehingga membentuk sebuah senyuman yang mempesona. Sesaat aku ingin terbang ke angkasa untuk mengendarai salah satu bintang di langit dan berpetualang mengelilingi galaksi. Tak ada lagi rasa kecewa dan takut dalam diriku. Aku memandang bintang-bintang di Tarutung hanya sediri, arwah hutan menjagaku hingga matahari muncul esok pagi di ufuk timur. Ku hempaskan tubuhku di tas ilalang kering yang terhampar luas sambil mendengarkan alam bercerita tentang rahasia semesta.

Semarang, 1 Mei 2009

3 Komentar to “BINTANG-BINTANG DI TARUTUNG”

  1. Tarutung memang tidak terlupakan. Tapi, ironisnya, justru ‘kelemahan’ yang Agus ceritakan di atas, malah jadi salah satu faktor penarik kesana. Tugu-tugu yang megah.
    Walaupun memang, faktor itu hanya bersifat sementara saja.

    Tapi, kalau tidak salah, ada rencana dari Pemda untuk menjadikan Tarutung sebagai kota wisata rohani? Benar nggak, Gus?

  2. benar sekali ito…..
    itu dah dicanangkan sejak tahun 2000 silam,,
    itu dengan dipromosikannya Salib Kasih sebagai objek wisata andalan dari kota Tarutung…
    tapi sayangya sampai aku merantau dari tarutung tahun 2007 silam hal itu belum menunjukkan tanda-tanda hingga sekarang…

    semoga kita perantau ini memiliki kepedulian untuk kampung kita yang tercinta itu ito.

    HOras………..

  3. Salam kenal. Ini lagi jalan2 melihat kekayaan Nusantara … Sekalian mampir, nambah saudara …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: