BALADA LELAKI TUA DAN CINTANYA

oleh lamasi

Aku mengenalnya sebagai seseorang yang dalam hidupnya tinggal sendiri di pondok kecil di ujung jalan menuju desa. Di antara kebun sayur yang mengelilingi pondok kayu yang dari tahun ke tahun selalu sepi. Dia hidup sendiri tak berkerabat dan tanpa ada yang mengunjunginya. Sejak aku lahir dia sudah menghuni rumah kecilnya itu. Hanya ada satu orang yang selalu mengunjunginya setiap hari. Terkadang membawakan serantang makanan untuk diberikan kepada pria tua yang malang itu.

Keluargaku selalu baik dengannya, bagiku orang tua itu lumayan menyenangkan. Setiap ada kesempatan aku selalu berkunjung ke pondok sayurnya. Orang-orang kampung lebih mengenalnya dengan si tua gila. Mereka lebih memilih untuk tidak begitu peduli dengannya. Bagiku dia sudah seperti kakek ku sendiri dan sahabat yang mengajarkan ku tentang banyak hal yang tak pernah ku dapatkan di bangku sekolah. Aku memanggilnya kakek Letnan. Dia adalah veteran pejuang 45 yang tak pernah mendapatkan haknya atas pengabdian kepada bangsa ini.

Dia bercerita tentang masa mudanya. Tentang hal-hal hebat yang dulu dia lalui. Waktu telah menempanya menjadi seorang yang sarat dengan kisah-kisah heroik yang bagi sebagian orang mampu menggugah jiwa nasionalismenya. Sisa-sisa kerasnya pertempuran tampak dari luka-luka yang memenuhi sekujur tubuhnya. Kakinya yang pincang adalah kenang-kenangan dari agresi militer Belanda yang kedua. Walau demikian, setiap kali aku memandang jauh ke lubuk matanya ku temukan suatu rahasia yang tak ku pahami. Sering kali aku mencoba untuk mencari celah agar kakek Letnan menceritakan rahasia yang disimpannya sepanjang usianya.

Suatu sore di bulan Juli, seperti biasa aku datang menjenguknya. Saat itu aku sudah memasuki usia remaja. Tampak keriput di wajahnya semakin termakan usia. Aku tak pernah tahu kapan tepat ulang tahun kakek Letnan, menurut kakek Letnan itu sangat tidak penting. Namun ku perkirakan usianya sudah 70 tahun lebih. Dia duduk di kursi kayu yang menghadap jendela yang terbuka ke barat. Ku amati wajahnya tampak letih. Dipandanginya langit sore lekat-lekat dan sesekali menarik nafas panjang.

“ Kau lihat hutan itu Remus!” katanya menunjuk hutan yang terdiam di depannya tanpa memandang wajahku. “Dari dulu hingga kini hutan itu tetap seperti itu. Diam, damai, tanpa cinta, tanpa keluarga namun tetap bertahan menantang jaman.” Masih belum memandangku.

“ Maksud kakek?” Tanyaku masih bingung bercampur heran. Tak biasanya kakek seperti itu.

“ Dalam hidup ini manusia ditakdirkan untuk berpasang-pasangan, tapi ada yang memilih untuk tidak berpasangan. Menurutmu apakah mereka itu dianggap melawan takdirnya?”

“ Menurutku itu semua adalah pilihan kek. Tapi jujur saja aku belum mengerti maksud kata-kata kakek.”

“ Setiap saat aku mendapatimu bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang tersembunyi dalam hati kakek kan? Kakek tahu bahwa kamu bisa melihat sesuatu yang tersembunyi dalam hati kakek.”

“ Ngngg….” Aku diam tersipu. “Berarti kakek benar punya sebuah rahasia?” Tanyaku lagi.

“ Setiap orang itu punya rahasia nak. Dan menurut kakek sudah saat nya kakek membagi rahasia itu dengan seseorang yang kakek anggap pantas untuk mengetahuinya.”

Sore semakin berat, malam sudah siap untuk digelar. Senja yang kemerahan telah ditutupi hitamnya malam. Kakek Letnan mulai bercerita. Sesuatu yang disimpannya selama ini. Bukan tentang kepahlawanan dan perjuangan, sesuatu yang berbeda yang belum pernah aku dengarkan dari kakek Letnan. Ternyata dalam kesendiriannya, orang tua itu menyimpan sebuah harta yang sangat berharga. Cinta yang sejati yang dibawanya hampir di sepanjang hidupnya.

Dalam kesunyian kebun sayurnya yang tersembunyi di ujung jalan. Suara kakek yang berat menusuk-nusuk dalam rongga telingaku dan melaju kencang ke dalam dadaku, membuat semua gejolak dalam jiwaku berontak ingin keluar.

Dulu sekali, saat usianya sama sepertiku, dia mencintai wanita yang tak bisa dilupakan bahkan hingga di hari tuanya ini. Sejak kecil mereka tumbuh bersama. Di usianya yang beranjak dewasa cinta kakek Letnan semakin dalam, hingga kakek Letnan tak mampu menahannya dan mengutarakan cinta tulusnya. Saat itu keadaan tak sebaik sekarang. Hidup di alam penjajahan adalah sebuah penderitaan yang tak bisa ku bayangkan. Sebagai seorang pemuda, kakek Letnan turut berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini. Sebelum kakek Letnan bergerilya di hutan dia mengutarakan cintanya kepada wanita itu. Namun hingga kakek Letnan harus meninggalkan kampung dan berjuang dari hutan ke hutan, wanita itu tak pernah menjawabnya.

Saat itu kakek Letnan berjuang untuk negeri ini. Bertahan hidup untuk meraih cintanya. Dia tak boleh mati, sebuah keyakinan di dalam dadanya sebuah masa depan telah menantinya. Waktu berlalu dengan sangat lambat, perjuangan belum usai. Terkadang kakek Letnan duduk merenung memandang bulan di malam hari, diantara hujaman-hujaman peluru musuh yang siap mencabut nyawanya. Merindukan seorang kekasih diantara tumpukan mayat-mayat tak dikenal. Gejolak dadanya semakin hari semakin sesak, namun perang belum usai dan dia tidak tahu kapan akan berakhir. Apakah dia masih hidup untuk melihat akhir dari semua ini dan bertemu dengan kekasih jiwanya, dia tak pernah tahu.

Dalam doanya, dia hanya berharap untuk kembali pulang bersama nafasnya untuk menemui sang kekasih. Setelah penantian panjang dan pertempuran mengerikan yang dilaluinya, negeri ini merdeka. Tak terhitung berapa jumlah pemuda yang gugur dalam perang, bahkan dia sendiri tidak ingat lagi orang-orang yang berjuang disampingnya dan gugur satu persatu. Ternyata revolusi berjalan begitu lambat dan sangat lama.

Tubuhnya tampak kurus dan letih saat dia melangkah keluar dari hutan sambil memanggul senapan yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama pertempuran. Dilaluinya setiap celah dari perluru musuh dan ledakan-ledakan mortir yang mencoba menghentikan langkahnya. Bayangan akan kekasihnya yang sudah menunggu di ujung jalan terpampang begitu jelas di benaknya. Dia mengharapkan sebuah penerimaan akan cintanya setelah penantian selama pertempuran berlangsung.

Desa yang telah ditinggalkan sekian lama tak pernah berubah. Namun sebuah masa depan baru telah datang, Jepang telah menyerah kepada Sekutu dan kemerdekaan negeri ini sudah di proklamirkan. Namun tak ada yang berdiri di ujung jalan menunggunya, tak ada ungkapan cinta yang didapatinya setelah penantian sekian lama ini. Dia melangkah dengan lusuh, terpincang-pincang dengan luka di sekujur tubuhnya. Cintanya telah pergi, mencari jalannya sendiri dengan orang lain yang tak dikenalnya.

Orang-orang di desa tidak tahu kemana cintanya pergi. Wanita itu telah menikah dengan pemuda lain dan pindah ke luar pulau. Namun tak ada alasan baginya untuk berteriak dan menyesali nasibnya. Sepanjang yang dia ingat, wanita itu tidak pernah menjawab perasaanya hingga dia pergi mencari jalannya. Tinggallah kakek dengan segala kesepian yang menyusupi dadanya. Tanpa cinta dan harapan, semuanya kosong tak membekas. Akhirnya dia hanya cukup menikmati kebebesan negeri ini. Dipilihnya hidup yang sepi, tanpa cinta. Melawan takdirnya untuk tidak berpasang-pasangan.

Keadaan kakek tetap sendiri, hingga saat kedatangan penjajah yang ingin menghancurkan kemerdekaan negeri yang telah mereka rebut. Berbagai pertempuran kakek Letnan lalui, terkadang dia mengharapkan tewas dalam setiap pertempuran dan menjadi tulang belulang yang terkubur di hutan tanpa ada yang mengenali. Hingga agresi militer Belanda kedua berakhir kakek Letnan masih tetap berjuang. Dia mencoba melupakan kenangannya bersama butiran-butiran peluru yang tembakkannya. Setelah negeri ini benar-benar merdeka dan berdaulat, kakek Letnan memilih untuk lepas dari kemiliteran dan hidup sendiri bersama rahasia cintanya.

Akhirnya kakek Letnan mengakhiri kisahnya. Wajahnya yang keras berjuang keras menahan air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Suaranya semakin serak menahan tekanan di tenggorakannya. Ku pandangi lelaki tua itu lekat-lekat, tak dapat ku tebak perasaan ku antara sedih dan prihatin. Kisah yang tak pernah kusaksikan. Tak pernah ku bayangkan orang yang begitu tabah selama ini ternyata menyimpan sesuatu yang sangat berat di dalam dadanya.

“ Hingga sekarang kakek tidak pernah bertemu dengan wanita itu?” Tanyaku.

Kakek Letnan memandangku dengan tajam, untuk pertama kali sejak aku tiba di sini. “Pernah.”

“ Lalu dimana wanita itu.”

Wajah kakek semakin sendu, aku menyesal telah menanyakannya. “Dia itu nenek mu, ibunya ayah mu Remus. Aku tak pernah mengira jika nenek mu menikah dengan kakek mu yang tak lain dari sahabat kami sendiri.” Kata kakek Letnan.

“ Jadi kakek ku merebut nenek dari kakek Letnan?” Kataku keheranan, sedikit timbul rasa kecewa di dalam dada ku. Tapi aku tidak tahu kepada siapa aku kecewa.

“ Hmmhm….” Kakek Letnan menarik nafas panjang. “Tidak, saat itu aku belum memiliki hubungan yang jelas dengan nenek mu. Dan juga nenek mu tak pernah mencintai ku, dia menganggapku sebagai kakaknya demikian juga dengan kakek mu. Aku menyayangi kakek dan nenekmu, saat aku tahu mereka telah menikah kuputuskan untuk menerimanya dengan lapang dada.”

Ku lihat wajah seorang kakek di wajah kakek Letnan. Aku semakin mengaguminya dan menyayanginya. Pantas saja jika orang tuaku sangat menghormati orang tua itu. Tak pernah ku temui orang sehebat kakek Letnan dalam sepanjang usiaku. Tak perlu aku bertanya lagi tentang cintanya kakek Letnan pada nenek. Aku tahu jawabanya, selalu.

“ Kemarilah Remus.” Kata kakek Letnan memanggilku untuk duduk di dekatnya. “Sejak kau lahir, kau tak mengenal nenek mu kan? Kulihat mata nenek mu jauh di dalam bola matamu, kau tahu kalau namamu aku yang memberikan?” Katanya. Aku menggeleng pelan, kucium tangannya. Kurasakan sesuatu yang hangat mengalir di dalam darah ku. “Ku beri kau nama Remus, salah satu nama dari dua bersaudara kembar yang mendirikan kota Roma, kelak kau agar menjadi orang besar. Orang yang mampu menciptakan kehidupan mu sendiri.” Tambahnya.

***

Tapi cerita itu telah lama berlalu, itu hanyalah bagian dari masa remajaku yang indah. Masa dimana aku menemukan orang yang bisa ku hormati dan ku kagumi. Kini aku merindukan cerita-cerita heroik dari kakek Letnan. Sekarang dia sudah tidak ada. Dia meninggal dalam tidurnya di usia ke 76 saat aku sudah tumbuh menjadi pria dewasa. Saat kakek Letnan meninggal, sengaja aku datang jauh-jauh dari luar pulau untuk melihatnya untuk terakhir kalinya.

Ku pandangi gundukan tanah yang masih basah di depanku. Sebuah nisan tertancap di atas makamnya. Letnan (Purn) Martinus, tertulis di atas nisannya. Dia telah pergi menuju penciptanya, menemui cinta sejatinya yang telah terlebih dahulu menghadap. Kulihat wajahnya yang damai terdiam sebelum peti matinya ditutup untuk selamanya. Dia hidup dalam kesepian bersama kisahnya yang tak pernah habis. Hanya keluarga ku yang dimilikinya. Setahun sebelum meninggal, kakek Letnan mendapat bintang jasa atas pengadiannya dari pemerintah. Sekarang kakek Letnan telah damai, terkubur bersama masa lalu dan cintanya. Ku kagumi dia seperti kakekku sendiri. Sekarang ku kenang dia sebagai seorang lelaki tua dan cintanya yang suci.***

One Comment to “BALADA LELAKI TUA DAN CINTANYA”

  1. halo,
    senang bertemu Anda melalui blog ini saya Agus Suhanto, tulisan yang menarik :) … lam kenal yee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: