PERJUANGAN : SEBUAH KATA KERAMAT

oleh lamasi

Bumi ini sudah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu. Jutaan kehidupan sudah silih berganti melaluinya. Sejarah peradaban dunia sebagian besar telah mulai dituliskan dalam sebuah catatan manuskrip kuno. Gerak laju perkembangan jaman seiring dengan berputarnya waktu, dan itu menandai betapa bumi ini sudah semakin tua dan sepuh.

Sejarah mencatat bahwa peradaban berkembang dengan ditandai era-era baru. Sejarah kehidupan manusia yang cukup panjang dan beranekaragam. Manusia sejak diciptakannya Adam dan Hawa telah berkembang menjadi mahkluk paling tinggi derajatnya diantara mahkluk hidup lainnya. Manusia yang diberikan kemampuan untuk berpikir membuat manusia mampu menciptakan segala sesuatu yang dapat membantunya untuk hidup. Kebudayaan berkembang seiring dengan kemajuan pola pikir manusia. Setelah melalui fase-fase yang panjang yang diawali dari manusia purba hingga manusia modern yang dikenal dengan homo sapiens, kebudayaan dan peradaban manusia mencapai titik puncak yang gemilang.

Bersamaan dengan perkembangan peradaban itu juga, tingkah dan perilaku manusia juga ikut berkembang seakan-akan menyesuaikan dengan jaman yang ada. Sejak dahulu manusia sudah menjadi mahkluk yang kuat, mahkluk yang mampu bertahan hidup hingga sekarang ini. Namun dalam mencapai kemajuan peradaban manusia, sejarah juga mencatat bahwa sejarah panjang kehidupan ini selalu di ikuti dengan pertikaian yang tak ada habis-habisnya.

Perang telah menjadi bagian dari sejarah panjang perjalanan umat manusia. Setiap usia bumi ini memasuki era baru selalu ditandai dengan pertikaian dan peperangan yang membawa kehancuran. Banyak hal yang menjadi sumber pertikaian di tengah-tengah peradaban manusia yang dari waktu ke waktu semakin maju. Namun itu semua tidak terlepas dari sifat keangkara murkaan dan keserakahan yang memenuhi jiwa manusia. Persaingan dan kedengkian menjadi bahan bakar yang sangat mudah membakar sikap permusuhan di tengah-tengah masyarakat.

Dalam setiap peperangan yang terjadi, banyak orang yang terdoktrin untuk membujuk mereka terlibat dalam pertikaian. Orang-orang selalu menggunakan kata-kata perjuangan untuk mendoktrin jiwa-jiwa mereka. Dan itu hamper terjadi di setiap peperangan, baik peperangan politik, agama, suku atau pun antara golongan. Kata perjuangan memang terdengar sangat heroik dan mampu membangkitkan patriotisme setiap orang yang mendengarnya. Namun tanpa kita sadari banyak orang yang menggunakan kata perjuangan ini untuk memperalat dan menggerakkan orang lain sebagai mesin perang untuk menjalankan niatnya.

Sejak dulu, tua-muda, kaya-miskin, terpelajar ataupun tidak selalu terpengaruh dengan kata-kata perjuangan ini. Hal ini dimungkinkan dengan sifat manusia yang ingin menunjukkan diri di antara sesamanya. Memiliki rasa kebanggaan yang berlebihan sehingga mudah terdoktrin oleh kata-kata manis yang menyebutkan tentang perjuangan. Seperti dalam perang-perang besar yang tak kan pernah pudar dari ingat bumi ini, semuanya berawal dari kata perjuangan.

Bahkan jika kita implementasikan ke masa kini kata perjuangan masih sangat ampuh untuk menggerakkan massa dalam jumlah besar. Salah satu cotohnya, banyak sekali aktifis mahasiswa yang turun ke jalan untuk berdemonstrasi meneriakkan perjuangan dan lain sebagainya. Namun belum tentu mereka tahu apa itu perjuangan dan apa yang mereka perjuangkan, yang terpenting bagi mereka adalah mereka menganggap dirinya telah berjuang. Demikian juga para pelaku terorisme yang merelekan dirinya untuk melakukan aksi bom bunuh diri, karena sebelumnya mereka telah didoktrin dengan kata-kata manis yaitu perjuangan. Hingga timbul slogan perjuangan tak pernah berakhir.

Memang tidak ada yang salah dengan perjuangan selama itu dilakukan dengan murni berdasarkan alasan keadilan dan kemanusiaan. Dan yang harus kita catat yaitu bahwa perjuangan tidak harus dengan senjata atau fisik. Perjuangan yang ideal adalah perjuangan yang dilakukan dengan damai dan tertib. Sehingga tidak ada orang yang menyalah gunakan kata perjuangan untuk menebar terror dan penderitaan bagi bagi masyarakat.

Semarang, 13 November 2009

Agust Hutabarat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: