ANGKRINGAN : TONGKRONGAN RAKYAT YANG MASIH TETAP EKSIS

oleh lamasi

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Pulau Jawa tepatnya di kota Semarang, banyak hal baru yang begitu asing di benak saya. Maklum, perbedaan budaya saya dengan budaya di tempat baru ini tampak begitu mencolok. Salah satu hal baru yang saya temui yaitu Angkringan, atau ada juga yang mengenalnya dengan bakul Sego Kucing (Nasi Kucing). Angkringan sendiri merupakan khas dari Jawa Tengah, terutama Jogja, Solo dan Semarang. Namun kini sudah ada di mana-mana di daerah Jawa, bahkan kota Jakarta juga kita bisa menemui Ankringan atau Bakul Sego Kucing.

Jika di Kota Semarang, Angkringan lebih akrab disebut Bakul Sego Kucing. Awalnya saya bingung mendengar kata sego kucing atau nasi kucing. Banyak bayangan terlintas dipikiran saya tentang makanan yang satu ini. Apalagi mendengar namanya yang tidak lazim. Akhirnya, dengan diajak teman, saya mampir di gerobak sego kucing yang biasa mangkal di dekat rumah kos ku. Yang saya lihat bahwa angkringan atau bakul sego kucing itu adalah gerobak penjual jajanan rakyat dan nasi bungkus. Dan akhirnya aku mengetahui kenapa disebut dengan nasi kucing. Ternyata nasi bungkus yang dijual itu adalah nasi bungkus dengan porsi kecil (sedikit), dan aku teringat saat di Tarutung, jika orang makan dengan nasi sedikit selalu dikatakan indahan ni huting (nasi kucing).

Angkringan ini sendiri selalu rame dikunjungi oleh pembeli. Apalagi jika tempat mangkalnya di dekat kampus. Tak ayal lagi, sipenjual dapat meraup keuntungan yang lumayan besar. Saya sendiri punya angkringan pavorit yang biasa saya kunjungi, selain makanannya enak-enak, juga dekat dengan kos ku.

Ternyata ditengah kemajuan jaman, gerobak Angkringan atau bakul sego kucing masih mampu mempertahankan eksistensinya. Walaupun cafe-cafe modern dengan irama jazz ada dimana-mana, tetapi gerobak Angkringan mampu bersaing walaupun dengan lagu dangdut dan goyang panturanya. Apalagi saat ini ada beberapa pemilik angkringan yang sudah sangat inovatis, dengan memadukan antara angkringan dengan selera anak muda sekarang. Hal ini bisa kita temui di sepanjang Jalan Pahlawan Simpang Lima Semarang. Image angkringan yang dianggap kampungan akan segera terpatahkan, soalnya yang datang untuk nongkrong disana adalah anak muda dari berbagai kalangan. Jangan heran jika sepanjang Jalan Pahlawan Simpang Lima Semarang, jika malam hari selalu dipenuhi mobil-mobil yang parkir di sepanjang jalan.

Di daerah kampus ku sendiri, ada angkringan yang sudah memiliki kurang lebih 4 cabang yang tersebar di berbagai lokasi di daerah kampus UNNES. Dan tidak tanggung omzet perbulan yang mampu diraup dari keuntungan Angkringan mencapai 40 juta perbulan dihitung bersih.

Jika ditarik persamaan, di Jawa Tengah warung tongkrongan rakyat nya dikenal dengan Angkringan atau bakul sego kucing, maka di tanah Batak, ada yang disebut dengan Lapo, tongkrongan rakyat yang juga bisa membuktikan eksistensinya hingga saat ini. Angkringan dan Lapo, tetap jaya selama penikmatnya masih setia untuk datang berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: