MAAF, SAYA SUDAH TIDAK PEDULI POLITIK KAMPUS LAGI

oleh lamasi

Tanpa terasa ternyata sudah memasuki penghujung tahun. Itu tandanya dinamika kampus mulai mengeliat kembali. Mungkin tidak semua mahasiswa yang merasakannya, namun perubahan ini dapat kita lihat jelas. Memang hal yang seperti ini tidak hanya terjadi pada tahun ini, tetapi hampir terjadi setiap tahun sejak aku kuliah di kampusku UNNES tercinta, dan aku yakin bahkan itu sudah menjadi budaya turun temurun jauh sebelum aku menginjakkan kaki di kampus ini.

Penghujung tahun, tepatnya selama bulan desember, geliat dinamikan organisasi intra kampus seakan-akan bangkit dari tidurnya. Hal ini diakibatkan, pada bulan desember ini akan diadaan Pemira (Pemilu Raya), yang mencakup BEM, DPM dan UKM Universitas, BEM dan UKM Fakultas, Hima Jurusan sampai ke Himpro di tingkat Prodi. Dalam pemira ini akan ditentukan para ketua dari organisasi masing-masing, itu tandanya bahwa pemira merupakan miniatur dari Pemilu di sebuah negara. Berarti pemira dapat dikatakan pesta demokrasi terbesar yang terdapat di dalam kampus.

Saya sudah kuliah selama tiga tahun di kampus ini, selama itu juga aku senang mengamati geliat politik yang terjadi di dalam kampus. Karena tanpa kita sadari, Pemira memicu dinamika politik kampus. Walaupun secara langsung saya tidak pernah terlibat dalam politik kampus, tetapi sedikit banyaknya saya mengerti tentang politik yang ada. Hal ini saya dapatkan dari mendengar, melihat dan juga saya dapatkan dari pengalaman saya ketika ikut dalam Komisi Pemilihan Umum Keluarga Mahasiswa (KPU KM) UNNES.

Politik kampus tidak jauh berbeda dengan dengan politik di negeri ini. Mungkin politik yang dipraktekkan dalam kampus ini juga implementasi dinamikan perpolitikan di negeri ini. Hanya bedanya, di dalam kampus UNNES tidak dikenal sistem partai mahasiswa, walaupun di beberapa kampus mengenal sistem partai mahasiswa.

Nuansa politik kampus ini sangat kental dalam pemilihan Presiden Mahasiswa dan Ketua BEM Fakultas. Saya tidak pernah tahu, mengapa geliat politik kampus begitu kental untuk hal yang dua ini. Bisa dimaklumi memang, karena gengsinya lumayan tinggi.

Sistem pemilihan Presiden Mahasiswa dan Ketua BEM, mengadopsi sistem pemilihan langsung, yaitu para calon dipilih langsung oleh mahasiswa. Dalam perkembangannya, para calon juga diberi kesempatan untuk melakukan kampanye. Kampanye itu sendiri ada dua jenis, yaitu kampanye dialogis dan kampanye media (kreatifitas). Sama seperti kampanye calon legislatif, presiden, gubernur, bupati/walikota, atau kepala desa, setiap calon biasanya menempelkan pamflet berisi visi dan misi mereka.

 

SAYA SUDAH TIDAK PEDULI

Tahun 2010, beberapa teman dan senior pernah mendorong saya untuk mencalonkan diri menjadi Ketua BEM FH UNNES periode tahun 2010. Namun pada dasarnya saya tidak pernah tertarik untuk maju mencalonkan diri. Berbagai cara telah dilakukan oleh mereka untuk membujuk saya, namun hasilnya tetap sama, saya tidak mau.

Mungkin sebagian orang hal yang saya lakukan itu biasa saja, tetapi ada juga yang bilang hal itu sangat saya. Karena menurut pendapat sebagian orang, saya berkompeten untuk mengisi posisi tersebut. Walaupun saya sendiri tidak percaya jika saya mampu untuk duduk di kursi kekuasaan itu.

Sebenarnya saya punya alasan mengapa saya tidak tertarik untuk mencalonkan diri. Karena pada awalnya memang saya sudah tidak tertarik untuk terjun dalam dunia politik kampus. Walaupun orang bilang, bahwa mencalonkan diri tidak harus ikut politik kampus, namun sadar atau tidak sadar ketika kita mencalonkan diri, kita sudah terjun ke dalamnya.

Saya juga juga tidak memiliki kemampuan melobi dan mengkader orang. Saya tidak yakin, apakah nanti saya mampu untuk meyakinkan orang untuk memilih saya secara sukarela, tanpa harus menyerang calon lawan. Dan pengalamanku dalam organisasi di dalam kampus, bahwa saya sudah faham betul bagaimana keadaan di kampusku, jadi saya tidak mau berekperimen dengan coba-coba terjun ke dalamnya.

Cukuplah aku sebagai pengamat tanpa harus terjun di dalamnya. Dan sekarangpun aku sudah tidak peduli lagi dengan politik kampus. Sebenarnya saya sudah muak dengan para “pelaku” politik kampus. Mereka lebih mementingkan kepentingan golongan mereka sendiri dan kepentingan pribadi mereka. Bagi saya mereka tidak lebih dari selebritis yang mementingkan imej dan pencitraan diri mereka. Aku tidak menuduh mereka, tetapi kenyataannya seperti itu. Melakukan pengkaderan, tetapi bukan mengkader ke arah yang baik, malah ke tujuan politis mereka.

4 Komentar to “MAAF, SAYA SUDAH TIDAK PEDULI POLITIK KAMPUS LAGI”

  1. sebenarnya aku gag terlalu mudeng tentang yang mas Tulis,,, masalahnya aku tidak kuliah disana,, dan akupun bukan mahasiswa yang aktiv di kampusku.. Tapi satu Hal… Aku sangat suka sekali dengan gaya penulisan maz,, terus menulis ya,,,, tentang apapun,,,
    Salam Kenal

    Vee

  2. membaca tulisan mas,,saya jadi teringat,,walapun saya kuliah di tempat yang berbeda,,univ yg berbeda,,tapi saya juga mengalami hal yang mirip dengan agust,,,saya juga dulu termasuk mahasiswa yang aktiv,,,benar,saya membenarkan apa yang mas utarakan, pengkaderisasi itu mengkader ade-ade kelas agar berpikiran yang sama,,,bagi organisasi kampus juga mementingkan imeJ,,jadi yang dibangun dr kaderisasi, bagaimana menjaga imeJ,,padahal di dalamnya bolong dengan kebohongan-kebohongan dan manipulasi…semoga dengan tulisan mas ini,,jadi tersadarkan orang2 yang seperti itu….like this tulisannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: