MALAM JUM’AT KLIWON

oleh lamasi

Malam jum’at Kliwon sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi bagi masyarakat Jawa. Kliwon merupakan salah satu hari dalam Weton Jawa. Bagi orang-orang tradisi Kejawen, weton ini tidak dapat lepas dari kehidupan mereka sehari-hari.

Sering sekali kita mendengar image yang sedikit asing mengenai malam Jum’at Kliwon. Malam Jum’at Kliwon itu sendiri jatuh pada hari Kamis Wage malam. Mungkin dalam kearifan local di daerah saya, malam Jum’at Kliwon biasa-biasa saja, selain di daerah saya tidak mengenal weton seperti dalam kepercayaan Kejawen, saya juga memiliki budaya yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Namun, sejak saya tinggal di Jawa, akhirnya saya juga harus mengetahui seluk-beluk kearifan local yang ada di daerah tempat tinggal saya sekarang.

Malam Jum’at Kliwon sering digambarkan sebuah malam dimana roh halus banyak berkeliaran. Penggambaran yang seperti itu membuat image malam Jum’at Kliwon memiliki kesan seram dan magis. Sebagai orang di luar suku Jawa saya sama sekali tidak memahami mengapa malam Jum’at Kliwon dianggap seram. Walaupun saya sudah menanyai beberapa orang teman saya yang bersuku Jawa, tapi saya belum mendapatkan mengapa malam Jum’at Kliwon dianggap seram. Jawaban mereka selalu sama, “Itu sudah ada dari dulu sejak leluhur kami.”  Namun pada akhirnya saya juga mengikuti tradisi tersebut.

Saya sebenarnya punya sebuah pengalaman tentang malam Jum’at kliwon. Cerita ini terjadi ketika saya mengikuti Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampus di sebuah desa bernama Karangtejo di Kabupaten Temanggung. Desa tempat KKN saya termasuk desa yang masih hidup secara sederhana dengan berpedoman pada agama Islam dan tradisi jawa. Walaupun demikian mereka tidak menutup diri dari orang asing seperti saya yang memiliki latarbelakang agama dan suku yang berbeda.

Dalam melakukan kegiatan, masyarakat desa Karangtejo sedikit banyaknya masih berpedoman pada weton Jawa. Hal itu sangat lumrah, karena seperti yang saya sebutkan diatas bawah mereka masih menjalankan tradisi jawa dengan taat. Jadi sama halnya seperti masyarakat Jawa lainnya, Malam Jum’at Kliwon di desa ini juga masih menjadi sebuah malam yang dianggap seram.

Sebelumnya, ketika pertama kali kami tinggal di desa Karangtejo ini, ada seorang warga bernama Mbah Isman yang datang bersilaturahmi ke posko kami. Saat berbincang-bincang, beliau menceritakan tentang desa Karangtejo, mulai dari pembangunan desa (kebetulan beliau adalah Kepala Urusan Pembangunan di kantor desa Karangtejo). Semakin jauh mengobrol, akhirnya menyinggung masalah mistis. Beliau menyebutkan beberapa titik yang menurut beliau adalah tempat-tempat seram.

“Jadi mas sama mbak KKN, kalau udah habis magrib gak usah keluar dari dusun ini lagi. Apalagi kalau lewat dari jembatan yang mau ke Kelurahan. Di sana banyak dedemitnya, saya pernah dicegat sama kuntilanak di sana.” Kata Mbah Isman.

Hari pertama kami di desa Karangtejo menjadi sangat mistis karena cerita dari Mbah Isman itu. Sontak saja teman-teman yang wanita langsung mendeklarasikan, “Kita gak usah kluar malam ya bang.”

Walaupun kita berenam sudah sepakat untuk tidak keluar malam, apalagi harus melewati jembatan yang disebutkan Mbah Isman, tapi terpaksa kita harus melanggar kesepakatan itu. Pada tanggal 23 September 2010, atau hari ketiga kami di desa Karangtejo, pak Lurah mengundang kami ke rumahnya untuk silaturahmi dengan bu Lurah. Undangan itu pukul 19.00 WIB. Sebetulnya tidak ada yang aneh dengan undangan itu, tapi yang menjadi persoalan adalah, malam itu adalah malam jumat Kliwon. Ini untuk pertama kalinya kami keluar malam dan harus melewati jembatan angker itu dan juga tepat pada malam jumat Kliwon.

Akhirnya kita putuskan datang ke Rumah pak Lurah selagi masih terang. Akhirnya sesampai di rumah Pak Lurah, kita ngobrol-ngobrol sambil perkenalan dengan bu Lurah dan anak-anak Pak Lurah, makan dan sebagainya. Tiba-tiba turun hujan dan waktu menunjukkan pukul Sembilan malam. Hati dilanda keraguan, mau pulang, takut dan hujan pula, tapi kalau nginap di rumah pak Lurah gak enak. Tapi akhirnya karena dipaksa sama pak Lurah, kita menginap di sana dan pagi-pagi banget kita pulang ke Posko di dusun Pongangan.

Itulah pengalaman pertama saya di Malam Jumat Kliwon di desa Karangtejo. Kami berada dan tinggal dengan masyarakat desa Karangtejo selama 45 hari. Dari tanggal 20 September hingga 5 November 2010. Pada minggu-minggu terakhir kami di desa Karangtejo, saya dan seorang teman saya masih mengalami kisah yang berkaitan dengan malam Jum’at Kliwon. Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 2010, sepulang dari mengajar computer di MI Al-Jam’iyah desa Karangtejo, kami seperti biasa mampir di rumah Mbah Tris (Kepala Urusan Kesejahtraan desa Karangtejo). Biasanya kami di sana harus makan sebelum pulang, namun tiba-tiba Rani teman saya minta pulang. Sebenarnya sangat aneh, dia ngotot harus pulang saat itu juga. Kami menjadi bingung dan salah tingkah. Mbah Putri sudah selesai memasak, akhirnya kami pulang tanpa makan terlebih dahulu. Ada perasaan kesal terhadap teman ku Rani, dan rasa tidak tega terhadap Mbah Tris dan Mbah Putri.

Aku dan Atun, yang selama KKN selalu berboncengan dan lumayan dekat dengan Mbah Tris, saat diperjalanan sepakat untuk kembali nanti malam ke rumah Mbah Tris untuk minta maaf. Sesampainya di posko, semuanya seperti salah tingkah. Rani langsung masuk kamar, aku, Zicco, Ussy dan Atun duduk di ruang tamu. Sementara satu teman kami Rizal, lagi pulang ke Semarang. Awalnya kami berempat diam membisu sibuk dengan pikiran masing-masing. Akhirnya aku mengajak mereka bermain “Jujur atau Berani”.

Permainan sudah berjalan setengah jam, waktu menunjukkan jam setengah empat. Atun ijin untuk Sholat Ashar dulu. Sambil menunggu Atun selesai Sholat, kami melanjutkan permainan. Tiba-tiba Atun berlari ke ruang tamu, “Eh.. teman-teman Rani lagi sakit.” Spontan kami berhamburan ke kamar anak cewek. Rani sedang terbaring sambil menahan sakit.

Beberapa menit kemudian, setelah minum obat, Rani mulai membaik. Ternyata sakitnya kambuh. Dan kami pun berhenti bermain. Kami akhirnya sadar, ternyata tadi Rani ngotot ingin pulang karna dia sudah mulai menahan sakit.

Habis magrib, kami makan malam. Aku dan Atun sengaja makan sedikit. Seperti kesepakatan kami berdua, bahwa malam ini kami akan kembali ke rumah Mbah Tris. Sambil bercanda kami pamit ke teman-teman, mau ngantar Atun ke posko desa lain mau ngambil sesuatu dari temannya. Kami memang sengaja merahasiakan misi malam ini.

Sepanjang perjalanan ada sedikit keanehan, jalanan kok tumben sepi ya tidak seperti biasanya. Tapi memang malam itu dingin banget, kabutpun tebal banget. Menuju rumah mbah Tris, pastinya harus lewat jembatan angker itu, tapi kami sudah 40 hari di desa ini kami sering lewat jembatan itu malam-malam, tidak ada gangguan. Jadi bagi kami sudah tidak angker lagi.

Sesampainya di rumah Mbah Tris, kami minta maaf dan dipaksa makan malam. Setelah itu kami berbincang-bincang dengan Mbah Tris, Mbah Putri dan Mbak Wi (putri mbah Tris). Tak terasa malam semakin larut, kami di rumah mbah Tris sampai jam 10 malam. Sebenarnya mbah Tris maksa kami untuk nginap, tapi aku minta pulang saja. Akhirnya kita pulang juga.

Jalanan semakin sepi dan mencekam. Maklum juga, di sana tidak ada lampu jalan. Jadi hanya mengandalkan lampu motor saya. Atun yang saya bonceng di belakang sudah sibuk dengan bacaan Ayat Suci Al-Quran nya. Akhirnya kami sampai di posko. Teman-teman yang lain belum pada tidur, ada yang nonton dan online.

Tiba-tiba Ussy bilang, “ Kalian kok lama sih?”

“Oh biasa, kita berdua nge date dulu. Mumpung masih KKN, ntar klu di Semarang udah gak bisa. Atun udah sama Indra lagi.” Jawab ku bercanda.

“ Kalian berani juga pergi malam Jum’at Kliwon gini.” Kata Zicco.

“ HAH..!!!! MALAM JUM’AT KLIWON…????” Tiba-tiba Atun terduduk lemas dan aku hanya bisa senyum-senyum gak jelas.

 

 

15 Responses to “MALAM JUM’AT KLIWON”

  1. OOOOOO…..kerumah mbah TRis..
    makan malam g diajak2 gtu yaaa….
    :)

  2. tapi mbok ya dibawain makananyaaa…
    hohowwww…
    ada potonya mbah trissss..jadi terharu

  3. ujung ceritanya ga jls..

  4. hmmmmmmm………………
    kirain apa nech kupasan-nya ttg juma’y kliwon……..
    ternyataaa……….
    hiks
    btw, bagus jugalah pengalaman-nya……..
    salam knal ya bos………….

  5. daripada malam jum’at kliwon ke rumah mbah Tris…
    mendingan ke Kuburan ajje…pZT! seru….!!!
    di jamin….!!!!

    hahahihihehe
    weXxXx…

  6. macam2 kisah dan fahaman pasal malam jumaat keliwon. sajer nak kongsi pengalaman yg pernah saya lalui ketika usaha mengubati kakak yang sakit. Ustaz tu tetapkan untuk ikhtiarkan pada malam jumaat keliwon. Sempat juga saya rakam beberapa foto : http://my.opera.com/saharaaban/albums/show.dml?id=14706102

Trackbacks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: