BUNGA-BUNGA RUMPUT

oleh lamasi

Senja tinggal segaris siluet oranye di ufuk barat. Beberapa ekor bangau berarak pulang ke sarangnya nun jauh di dalam hutan. Mobil yang membawanya meluncur dengan ringan di atas jalan beraspal. Bona membuka sedikit jendela mobil untuk merasakan belaian udara sore ini. Riak-riak air danau Toba berkilauan ditimpa cahaya senja yang tinggal samar-samar. Dia merasakan suasana yang telah lama dirindukannya. Masih memandang ke luar, bersama buaian senja, lagu Guardian Angel miliknya The Red Jumpsuit Apparatus mengalun lembut dari mp3nya.

Pekatnya malam mulai turun, sementara perjalanan masih sangat panjang. Tiga atau empat jam lagi Bona masih harus duduk di dalam mobil ini. Dia duduk dengan sabar, memandangi hutan yang sudah mulai diam. Beberapa ekor monyet duduk dengan santainya di pinggir jalan, memandangi lalu-lalang di hadapannya. Harmoni alam yang indah, semua terjaga.

Sejenak Bona mencari-cari botol air minumnya yang entah dimana sekarang. Setelah dia menemukannya langsung diteguk air tersebut, dia merasakan kesegaran kembali mengalir di dalam tenggorokannya yang terasa kering bagaikan di gurun Sahara. Ada rasa hangat yang dari tadi bersembunyi di dalam dadanya. Kerinduan akan kampung halamannya sebentar lagi akan terobati, di lain sisi dia juga akan segera menemui mahkluk paling cantik yang telah berhasil mencuri kepingan hatinya.

Sambil menikmati pemandangan indah selama perjalanan, Bona kembali membuka lembaran-lembaran imajinasi. Gadis manis sahabat masa kecilnya selalu terbayang di otaknya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan sahabat kecilnya itu. Sejenak dia mengira-ngira, kurang lebih sudah lima tahun. Tepatnya sejak Bona kuliah di Jawa. Selama itu, dia dan Velin, tidak pernah lagi berhubungan.

Seulas senyum menghiasi bibirnya yang merah dan sedikit kering. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak karuan. Ada sejumput rasa bahagia yang meletup-letup dalam relung dadanya. Surpise yang indah telah disusunnya sejak jauh-jauh hari. Keyakinan dalam dirinya berkata bahwa kebahagiaan sesaat lagi akan bertemu dengannya.

Tiga jam kemudian, mobil travel yang membawanya tiba di sebuah kota kecil. Kota kelahiran sekaligus tempat Bona dibesarkan. Di kota kecil inilah dia mengerti kehidupan, dan disini lah tertinggal permata hatinya. Kebahagiaan tumpah ruah dalam dadanya, aroma sawah dan gunung langsung merasup masuk jauh kedalam tubuhnya. Suasana damai yang sudah lama dia tinggal pergi, dan sekarang dia kembali disapa aroma kehidupan kota kecil ini.

Gapura kecil bertuliskan “Horas, Selamat datang di Bona Pasogit Tarutung” menyambut kedatangan si anak rantau. Akhirnya sepuluh menit kemudian, mobil L300 itu memasuki sebuah gang kecil dan berhenti tepat di depan sebuah rumah papan yang sangat sederhana. Welcome Home, teriak Bona.

***

Bona terbangun dengan dua lembar selimut super tebal menutupi tubuhnya. Suara lonceng Gereja bertalu-talu dari gereja yang satu ke gereja yang lain. Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Sebenarnya Bona masih ingin membenamkan dirinya dalam selimut yang tebal itu, namun aroma kopi yang khas tiba-tiba menyeruak dalam lobang hidungnya. Segera dia bangkit dari tempat tidur dan melipat selimut.

Udara di luar masih sangat berkabut. Bona tidak berani mandi, untuk cuci muka pun dia harus pakai air hangat. Udara di kota kecil itu memang sangat dingin. Sambil mendengarkan berita pagi, Bona duduk dengan santai menikmati Tarutung pagi itu.

“Mau kemana hari ini?” Tanya mamak.

“Mau ke dolok (gunung) dulu lah mak.” Jawab Bona sambil menyeruput kopi hitamnya.

“Ngapain kau ke sana, gak ke rumahnya si Velin dulu kau? Udah ditanya nantulang (bibi) itu kau kemarin.” Kata mamak.

“Gampang lah itu. Mau buat kejutan aku nanti, tapi gak mamak bilangkan sama nantulang itu aku mau pulang?”

“Tapi kemarin kau bilang gak boleh mamak bilang-bilang ke orang kalau kau mau pulang.”

“Ok lah kalo kek gitu mak, udah mantap lah itu.”

“Jam berapa nanti kau ke dolok?”

“Agak siangan lah, dingin kali pun.”

“Ya udah lah, kau kunci lah nanti rumah ya. Mamak nanti pulang jam dua.”

Bona memandang ke arah Dolok Martimbang yang berdiri dengan angkuh di barat daya kota kecil itu. Siang ini Bona akan naik ke sana untuk satu tujuan, mencari bunga-bunga hutan. Dulu waktu kecil, Bona sering ikut orang tuanya ke kebun Kopi di lereng dolok Martimbang itu. Dia selalu memetik bunga-bunga hutan yang beranekaragam warnanya. Setelah dirangkai, bunga itu selalu diberikan kepada Velin, sahabat kecilnya itu.

Velin sangat senang mendapatkan buket bunga-bunga hutan itu. Sehingga setiap kali Bona ke kebun, pasti selalu membawakan bunga-bunga tersebut. Mereka sendiri tidak tahu nama dari bunga-bunga itu, sampai sekarang mereka pun tidak tahu, hingga akhirnya mereka sepakat untuk menyebutnya bunga-bunga rumput. Karena menurut mereka, bunga-bunga itu hanya dianggap sebagai rumput oleh sebagian besar orang, padahal bunga-bunga tersebut sangat lah indah. Beranekaragam warna, ada yang ungu, merah jambu, hijau, kuning dan lain sebagainya.

Siang ini, Bona berencana untuk memetik beberapa bunga-bunga rumput ke dolok. Dia ingin memberikan bunga-bunga itu untuk Velin. Malam ini dia ingin menghadiri pesta ulang tahun Velin yang ke-23 tahun, sekaligus ingin menyatakan isi hatinya yang selama bertahun-tahun dia simpan rapi untuk Velin. Sebuah kejutan yang telah direncanakan. Sampai Bona harus bolos tiga hari dari kampus hanya untuk itu.

***

Tepat saat matahari di atas kepala, dia telah memetik beberapa bunga-bunga rumput yang tumbuh dengan liar di lereng dolok Martimbang. Teriknya matahari siang ini tidak mampu mengusir udara dingin yang masih sangat menusuk tulang, bahkan di puncak dolok Martimbang, kabut tebal masih menyelimuti. Pohon-pohon pinus menari-nari seirama dengan tiupan angin gunung yang lembab. Diayunkannya langkahnya menuruni lereng gunung yang cukup terjal dan licin.

Sesampainya di rumah, Bona langsung merangkai satu persatu bunga-bunga tersebut menjadi sebuket bunga yang cukup indah. Bona cukup terampil dalam merangkai bunga. Kombinasi aneka warga dari bunga-bunga tersebut tampak serasi. Bunga-bunga hutan yang liar lebih sering dianggap rumput pengganggu oleh sebagian orang, kini di tangan Bona bunga itu berubah menjadi buket bunga yang tampak mewah dengan aneka warna.

Waktu menunjukkan pukul 18.00 WIB. Kembali lonceng Gereja sahut-sahutan mengisi angkasa sore itu. Bona bersiap-siap meluncur ke rumah Velin. Semuanya sudah dipersiapkan, dia yakin bahwa malam ini, dia akan mendapatkan permata hatinya. Sesekali dia melihat bayangan dirinya di dalam cermin, untuk meyakinkan dirinya bahwa semuanya sudah sempurna.

Tepat pukul 18.30 WIB, Bona mengendarai sepeda motornya ke rumah Velin yang hanya berjarak beberapa gang dari rumahnya. Dia bawa perlahan, takut hembusan angin malam akan mengacak-acak dandanannya yang sudah sangat rapi. Sambil menikmati udara malam yang sangat menusuk, sesakali tampak Bona melirik kaca spion. Tak lama kemudian, dia tiba di depan sebuah rumah yang cukup megah, dengan pot-pot bunga menghiasi halaman rumah. Beberapa sepeda motor memadati halaman. Tampaknya tamu-tamu sudah banyak yang datang.

Perlahan Bona memarkir motornya di sudut halaman, sambil berjalan pelan-pelan seperti maling dia masuk ke dalam terus ke halaman belakang yang menjadi tempat pesta ulang tahun. Dia berdiri dalam barisan paling belakang. Udara malam itu cukup cerah. Lautan bintang menghiasi angkasa dengan bulan purnama yang hampir bulat sempurna. Sungguh pesta yang sempurna.

Bona mengenali beberapa orang yang hadir di pesta itu. Namun sebisa mungkin Bona menghindari beberapa teman yang mengenalnya. Dia tidak ingin ada orang yang mengenalnya mengetahui keberadaannya dalam pesta ini. Dia ingin menunjukkan diri saat Velin hendak meniup lilin, seperti kedatangan seorang ksatria yang menolong seorang putri pada saat yang sangat genting. Bona benar-benar telah merencanakan itu.

Tak berapa lama, Velin muncul dengan balutan gaun ungu muda. Warna kesukaan Bona. Hatinya berbunga-bunga, jangan-jangan Velin telah mengharapkan kedatangannya. Dia pun berdiri sambil matanya tetap mengawasi para tamu undangan.

Lima menit kemudian, oleh MC hadirin dimohon untuk tenang. Acara akan segera dimulai. Bona berfikir, inilah saat nya. Sambil konsentrasi pada acara, dia menghitung-hitung saat yang tepat untuk menunjukkan dirinya. Namun tiba-tiba wajahnya tegang dan rona wajahnya berubah. Hatinya tiba-tiba mendung. Seorang cowok yang cukup ganteng berdiri di sebelah kanan Velin. Namun cepat-cepat dia menghibur hatinya, mungkin dia sepupu atau temannya Velin.

“Thank’s banget buat teman-teman yang sudah datang ke pesta ini. Semuanya kenalkan, ini Raja, pariban ku.” Kata Velin sambil menggandeng tangan kanan cowok itu. “Doakan ya teman-teman, bulan depan rencananya kami akan martumpol (tunangan).” Tambahnya.

Degg… Tiba-tiba Bona merasakan kedua lututnya bergetar. Seakan-akan kakinya sudah tidak mampu untuk menopang tubuhnya. Ternyata dia salah, Raja adalah calon suami Velin. Tak ada lagi yang dapat dia lakukan. Dia tidak mengetahui apapun tentang Velin selama lima tahun mereka berpisah.

Dia memutar langkah menjauh dari pesta. Bintang-bintang dan rembulan memandang prihatin kepadanya. Semuanya berbahagia kecuali dia. Buket bunga-bunga rumput itu dia letakkan di atas meja di ruang tengah rumah Velin. Kemudian dia mengambil motornya di sudut halaman. Hatinya tiba-tiba sepi. “Haruskah dia bersedih hati saat sahabatnya sedang bersukacita?” Runtuknya dalam hati.

Dia tidak ingin langsung pulang ke rumah. Malam ini dia ingin melepaskan semua kepenatannya. Dia tidak ingin membawa serta kepedihannya kembali ke pulau Jawa. Tak ada air mata, walaupun hatinya meratap. Disusurinya jalan-jalan kota kecil yang mulai sepi. Hatinya galau dan pikirannya bercampur aduk. Tak tahu dia mau kemana, motornya dipacu semakin kencang. Tiba-tiba motor tua itu hilang kendali. Remnya tidak berfungsi, dan akhirnya jatuh masuk ke dalam jurang yang di dasarnya terdapat sawah.

***

Tamu terakhir baru saja pulang. Beberapa orang petugas catring membereskan sisa-sisa pesta. Velin masuk ke dalam rumah sambil menggandeng Raja. Tiba-tiba matanya melihat sesuatu di atas meja ruang tamu.

“Ma… mama baru beli bunga ya?” tanyanya ke mama yang sedang duduk di depan tivi.

“Enggak.” Jawab mamanya.

“Trus ini bunga dari mana?” Tanya Velin sambil mengerutkan keningnya. Tiba-tiba matanya terbelalak. “Ma… Bona ke sini ya?”

“Mama gak liat. Emang kenapa inang?”

“Bunga ini ma, pasti dari Bona. Dia pasti ke sini.” Kata Velin lagi.

“Tadi kau liat gak dianya?” Tanya Raja.

“Gak sih, tapi aku yakin dia pasti datang. Tapi gak ketemu sama aku? Aku telpon namboru itu dulu lah ma.” Kata Velin sambil mengambil handphone nya.

“Halo namboru, si Velinnya ini. Si Bona pulang ya namboru?”

“Loh bukannya udah ketemu kalian, tadi dia ke rumah mu bawa-bawa bunga. Katanya kau ulang tahun.” Jawab mamaknya Bona dari ujung telepon.

“Jadi pulangnya dia namboru, kami belum ketemu. Tapi ditinggilkannya bunga di sini. Di situnya dia namboru?”

“Belum pulang dia.”

“Oh, mauliate lah namboru. Besok lah aku datang ke rumah. Biar ku tokokkan dulu si lontong itu.” Kemudian Velin menutup teleponnya.

Setelah Raja pulang, Velin masuk ke kamarnya. Sebelum tidur dia membuka facebooknya. Sekedar menjawab ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya. Dia mendapatkan tag sebuah blog dari Bona. Rasa penasaran membuat Velin membuka blog tersebut. Ternyata blog pribadi miliknya Bona. Semua tulisannya berisi tentang Velin. Semuanya, tentang cintanya yang begitu besar kepada Velin. Tanpa sadar Velin meneteskan air mata. Dia tidak pernah menyadari bahwa Bona begitu mencintainya. Tiba-tiba dia merasa menyesal bertunangan dengan Raja. Ternyata dia juga merasa bahwa Bona juga adalah cinta pertamanya. Satu persatu tulisan itu dia baca. Semakin dia membaca semakin besar rasa bersalahnya. Tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Dia sangat mencintai Bona, tapi dia tidak ingin menyakiti hati Raja dan terlebih lagi dia tidak ingin mempermalukan keluarganya. Velin berada dalam posisi yang sangat sulit. Air matanya tumpah begitu saja tak dapat dibendung. Akhirnya dia tahu kenapa Bona tidak mau bertemu dengannya. Diciumnya bunga-bunga rumput yang ditinggalkan Bona tadi. Wangi bunga-bunga rumput itu membuatnya semakin merindukan Bona.

Tiba-tiba seseorang mengetok kamar Velin. Buru-buru dia menutup laptopnya sambil mengusap sisa-sisa air matanya.

“Tok…tok..tok… buka dulu inang.” Kata mama dari balik pintu.

“Masuk aja ma, gak dikunci kok.” Kemudian mamanya Velin masuk. Wajahnya sedikit mendung.

“Ada apa ma?”

“Bona inang, tadi nantulang itu nelpon mama. Katanya Bona meninggal jatuh ke jurang pas mau ke Salib Kasih.” Kata mamanya Velin sambil menghapus air matanya.

Velin hanya terdiam, tak ada yang dapat diucapkannya. Lidahnya beku. Dia hanya bisa menangis tanpa suara di pelukan mamanya. Baru saja dia menemukan cinta pertamanya. Sementara itu dia harus menerima kenyataan bahwa cinta itu sudah harus pergi tanpa pernah mendengar isi hatinya.

***

Velin masih berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih sangat baru itu. Salib putih bertuliskan, “Di Son Maradian, Bona Hasibuan” (Di sini beristirahat, Bona Hasibuan), membuat hatinya semakin kosong. Salib putih itu menjadi penanda jarak antara Velin dan Bona. Kini dalam gundukan tanah merah itu telah terbaring tubuh sahabat dan cinta pertama Velin. Berat sekali rasanya dia untuk meninggalkan tempat peristirahatan Bona yang terakhir ini.      Di bawah pohon beringin ini, cinta itu telah terkubur.

Sebelum melangkah pulang, Velin berbisik, “Bon, dari sekian banyak cerita yang pernah kau ceritakan dulu, cerita ini tidak pernah kau ceritakan. Aku tak sanggup kehilangan mu, karena kau sangat berarti. Sekarang kau tidurlah yang tenang, aku lihat di sini tumbuh begitu banyak bunga-bunga rumput. Jaga lah itu untuk ku ya Bon. Semoga kau damai di sana ya sayang.” Kata Velin, sambil meletakkan buket bunga-bunga rumput yang terakhir dari Bona untuk nya.***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: