PERTARUNGAN HATI

oleh lamasi

Dalam hidup ini, aku selalu memimpikan hal-hal besar dan luar biasa yang ingin aku lakukan di masa depan. Aku tergila-gila dengan sejarah, aku ingin sejarah kelak mencatat nama ku sebagai bagian dari kemajuan peradaban ini. Aku selalu terobsesi dengan ide-ide brilian yang pernah dicetuskan oleh orang-orang terhormat yang punya kedudukan terhormat pula dalam sejarah selama berabad-abad. Terlebih ide-ide tentang persamaan, kebebasan dan keadilan. Aku menaruh hormat kepada mereka.

            Aku muda, penuh dengan cita-cita. Energiku penuh, aku siap melangkah mendapatkan masa depan ku. Dalam benakku telah ku lukiskan sebuah masa depan yang aku angan-angan kan. Tak muluk, hanya sebuah masa depan yang dipenuhi oleh orang-orang yang bebas dari rasa teraniaya. Aku memimpikan itu, semua orang dapat berfikir dengan kepalanya sendiri dan berbicara dengan mulutnya sendiri tanpa takut harus dibungkam.

            Setiap hari aku menyusuri jalan yang selalu sama. Jalan berbatu yang tak begitu mulus. Tempat tinggalku berada di ujung jalan, sehingga semua aktifitasku harus menggunakan akses ini satu-satunya. Ku jalani aktifitasku setiap hari. Ketika berangkat dan pulang aku selalu menantang matahari. Ada pembangkangan dalam diri ku, aku ingin jiwaku bebas seperti angin, tak terbelenggu oleh kuasa dunia.

            Aku mahasiswa, bagi sebagian orang adalah status yang dibangga-banggakan. Terlebih diberi embel-embel agent of change, director of change dan gelar kosong lainnya. Aku juga adalah mahasiswa hukum, aku mendalami teori-teori hukum dan praktis juga tentunya. Dalam diri ku tiba-tiba muncul suatu idealisme yang baru aku kenal ketika aku menjejakkan langkah di tanah-tanah kampus yang terhormat ini. Semboyan revolusi Prancis, itulah kekagumanku. Libery, Egalite dan Fraiternite (Kebebesan, persamaan, persaudaraan). Siapa tidak tahu itu. Tak hanya aku, mahasiswa yang jauh lebih idealis dari aku bahkan telah meneriakkannya di hadapan iring-iringan rombongan Presiden.

            Siang ini aku berkendaraan di jalanan mulus salah satu kota besar negeri ini. Mungkin negeri ini telah bangkit setelah terpuruk dalam gelapnya perbudakan oleh penjajah. Benar negeri ini telah merdeka. Dimerdekakan oleh bambu runcing katanya. Aku tidak tahu, tapi aku hanya mengikuti sejarah. Terkadang harus kita akui bahwa sejarah sering memanipulasi masa lalu, karena sejarah sering dijadikan sebagai alat propaganda orang-orang tertentu untuk kepentingan politik maupun kepentingan pribadinya. Siapa yang peduli? Semuanya diam, tidak ada yang membantah, karena merekalah yang memegang pena para penulis sejarah.

            Siang ini, di bawah terjangan panas matahari, aku berhenti di persimpangan jalan. Sungguh hebat, peraturan pun tak dapat memberikan kepatuhan kepada masyarakat negeri ini. Memang aku memimpikan sebuah kehidupan yang merdeka dan bebas untuk berfikir, tapi aku tak membayangkan kebebasan yang tidak bernorma. Mereka, pengguna jalan, kaum terpelajar, tak lagi mau bersusah-susah mematuhi peraturan, melanggar lalulintas mungkin sudah menjadi budaya. Aku hanya bisa melihat takjub akan negeri apa ini? Begitu barbarkah masyarakat negeri ini?

            Di sela-sela kendaraan yang berhenti, berkeliaran bocah-bocah kecil berkulit terbakar memohon belas kasihan. Kasihan sekali kau nak, bukankah konstitusi negeri ini telah menjamin hak mu sebagai warga Negara? Sementara pengendara lainnya sengaja membuang muka ke arah yang berlawanan seakan-akan jijik melihat mereka. Ada yang memberi, tapi ada yang membentak mereka. Negeri para barbar, runtuk ku dalam hati. Jika tidak ingin memberi, tidak perlu memaki atau memarahi mereka. Mereka juga manusia.

Kemudian bocah kecil itu datang tertatih-tatih kepada ku. Kini giliranku untuk dimintai belas kasihan. Wajahnya memelas, kotor dan terbakar. Usia mungkin empat atau lima tahun. Sekecil itu. Aku tak pernah bisa berdamai dengan nuraniku melihat pemandangan ini.

            Mas, nuwun mas, kasihan mas..” Katanya memelas, tangan kanannya menengadah mengharapkan beberapa keping receh dari ku. Aku merogoh kantongku, dan memberikan beberapa keping uang receh. Berkali-kali dia mengucapkan terimakasih sambil berlalu. Sejenak aku berfikir, aku dan mungkin kau, sering tidak mengacuhkan uang receh Rp. 100, Rp. 200 atau Rp. 500, kita jarang memungutnya jika menemukan di pinggir jalan, atau bahkan jika kita menjatuhkannya. Tapi tahu kah kau, bagaimana rasa terimakasihnya mereka jika beberapa dari recehan itu tergenggam di tangannya.

            Aku juga berfikir, setiap hari aku menghabiskan uang dua puluh lima ribu rupiah untuk makan, dan sepuluh ribu rupiah untuk bensin. Maka jika ditotal, rata-rata setiap hari aku menghabiskan tiga puluh lima ribu rupiah, belum ditambah dengan biaya lainnya yang kadang tidak terencana. Mewah sekali ternyata. Aku menjamin, belum tentu mereka bisa mendapatkan uang sejumlah itu dalam satu minggu. Aku bukanlah anak priyayi juga bukan anak pedagang atau pengusahan, hanya seorang anak abdi Negara. Tak pernah aku berfikir tentang kehidupan lain selain kehidupan yang sedang ku jalani ini.

            Hati ku tergerak, ada bisikan dalam diri ku mengajakku untuk melihat kenyataan. Mencoba membangunkan ku dari dunia angan-angan dan mimpi yang muluk-muluk. Bisikan itu menjanjikan sesuatu yang berkaitan dengan manusia-manusia bebas. Akhirnya ku ikuti dia. Dia menuntun ku ke kolong jembatan, tempat kaum terpinggirkan memelihara hidupnya dan keluarganya.

            Aku berada di lingkungan kumuh tempat kaum-kaum terpinggirkan hidup dan bertahan di belantara kehidupan ini. Akhirnya aku melihat kehidupan yang sesungguhnya. Rumah dari kardus, anak-anak tanpa baju, orang sakit tanpa pengobatan, orang-orang yang tidak makan selama berhari-hari. Semuanya nyata bukan dongeng dan mimpi, telah ku lihat itu.

            Aku tak bertanya, karena mataku telah mampu memberikan jawabannya. Tak perlu ku dengar lagi. Aku yakin, ceritanya bahkan bisa lebih pilu dari apa yang dapat aku bayangkan. Melihat mereka tidur di atas tumpukan sampah yang sungguh luar biasa baunya. Berdamai dengan alam terbuka, berbagi dengan berbagai kuman. Sungguh kehidupan telah menempa mereka menjadi kuat, aku tidak bisa membayangkan jika ini terjadi pada ku. Menghirup sedikit debu saja, aku bahkan bisa kehilangan nyawa, itulah rapuhnya diri ku ini. Tapi mereka tidak, kuat sekali mahkluk-mahkluk kurang beruntung ini.

            Aku tak tahu, apakah sampah bisa di makan, tapi aku melihat mereka memakannya. Aku juga tak tahu jika air got bisa diminum, tetapi mereka meminumnya. Sementara itu, orang tua yang putus asa tak mampu mendiamkan tangisan anaknya yang kecil yang sedang kelaparan, hingga akhirnya dia melakukan kebohongan. Dia menyalakan api, tetapi apa yang dia masak, batu ternyata. Dia menanak bebatuan, sambil berkata, “Sabar ya nak, sebentar lagi nasi akan matang. Tidurlah barang sebentar, nanti akan ibu bangunkan jika nasi dan lauk pauknya sudah matang”.

            Di pojok, merapat ke tembok, tepat di bawah pilar-pilar kaki jembatan, ada seorang anak perempuan yang penuh semangat. Menyanyi, menari dan berlari-lari. Sungguh dia belum mengerti kehidupan ini sepenuhnya. Dia menyanyi lagi, Indonesia tanah air ku, tanah tumpah darah ku..”. Aku terhenyak, ada nasionalisme di tempat ini. Apakah di gedung parlemen sama juga ada nasionalisme? Dalam hati aku menjawab nyanyian gadis kecil itu, kasihan sekali kau nak, tanah air mu telah menghianatimu. Sudah tidak ada tanah untuk mu. Kau telah tergusur bahkan sebelum kau dilahirkan, hak mu sudah diklaim oleh orang lain. Kasih sekali kau nak. Aku hanya bisa berkata di dalam hati.

            Terbukalah mata mu hai para pemimpin negeri ini. Lihat bangsa yang sakit ini. Masihkah kau ribut dengan kepentinganmu sendiri, masih kah kau tega merampok hak mereka dengan mengeruk APBN untuk biaya kampanye mu? Masih kah kau tega membangun istanamu sementara di pondasinya berserakan tulang-belulang rakyat miskin yang kau rampok haknya?

            Siapakah aku ini yang bisa mengubah semua ini? Lalu kata hatiku mencibir, “Bukankah kau memimpikan sebuah kebebasan? Ya manusia yang bebas? Berarti kau hanya tukang mimpi yang tak bisa apa-apa”. Aku menolak kata hati ku. Aku membantahnya, “bukan aku tidak mau, tapi aku tidak mau. Aku hanya sendiri, sementara yang ku lawan lebih besar dari raksasa Goliat, yang ku lawan adalah tembok keangkuhan, keserakahan dan angkara murka.” Jawabku.

            Kemudian hati ku kembali memperolok ku dan berkata, “Berarti kau adalah bagian dari kaum munafik yang hanya bisa berkata, mengumpat tetapi tidak member jalan. Pantas kehidupan ini tidak berpihak kepada orang-orang seperti kalian.”

            Aku jawab hati ku, “Lalu apa yang kau saran kan?”

            “Tak ada. Aku hanya kecewa pada mu, dimana idealisme mu itu. Dimana semangat revolusi Prancis yang kau dewakan itu? Sekarang kamu sadar kan, pada akhirnya kau hanya bisa bermimpi, karena mulut mu pun telah dibungkam sebelum kau memikirkan apa yang dapat kau katakan. Itulah hidup, selalu berkutit pada ketidakadilan. Dan setiap generasi selalu memunculkan orang-orang yang menentangnya, tapi dia tetap tak terkalahkan.” Katanya.

            “Lalu dimana kemerdekaan itu, dimana persamaan itu, dimana keadilan itu?” Tanya ku bertubi-tubi.

            “Sstt… diam lah kau, kemerdekaan, persamaan dan keadilan itu belum datang. Dia masih di negeri yang jauh, di negeri antah berantah. Semua yang kau dengar itu hanya kebohongan, sekarang kau sudah melihatkan, maka percayalah, bahwa negeri ini belum merdeka, persamaan dan keadilan itu adalah barang mewah, jadi hanya mereka yang berduit yang boleh memilikinya. Sekarang kau diam lah, sudah mengerti bukan?” Jawab kata hati ku.

            “Lalu apa yang harus aku lakukan kalau begitu?” Tanya ku.

            “Tak ada yang bisa kau lakukan, karena generasi sebelum kau sudah terlebih dahulu mencoba dan telah gagal, sementara generasi sesudah kau tetap telah ditakdirkan untuk gagal.”

            “Jadi ketidakadilan aku selalu merajai kehidupan ini?”

            “Ya.”

            Akhirnya aku hanya bisa terdiam, termenung. Sejarah telah berbohong. Ternyata ketidakadilan dan penindasan tidak akan pernah habis. Jadi orang-orang terhormat itu siapa? Apa yang mereka lakukan jika demikian? Pada akhirnya idealisme akan mati. Dan kemungkaran tetap menang. Inilah hidup, aku tidak mau menerimanya.***

(Semarang, 4 September 2011. “Kamar Kecil ku yang Penuh Inspirasi”)

BACA JUGA :

5 Komentar to “PERTARUNGAN HATI”

  1. Horas,,…

  2. merinding aku baca bang.. horas salam q dr lombok.

  3. Great, keren, sangat menginspirasi. Jika ada waktu mampir di blog majalah amatir saya ya, makasiiiiiii….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: